• BLOG
  • Buku
  • Podcast
  • Video
  • Testimonials
  • Data

Diskartes - Blog Investasi dan Ekonomi

Blog Perencanaan Keuangan, Investasi Saham, Cryptocurrency, dan Ekonomi.

  • Ekonomi
  • Saham
  • Blockchain
  • Perencanaan Keuangan
  • Fintech
  • Bisnis
Anda di sini: Beranda / Saham / Teknologi AI Butuh Listrik Besar, Apakah Emiten Energi Bakal Diuntungkan?

Teknologi AI Butuh Listrik Besar, Apakah Emiten Energi Bakal Diuntungkan?

November 4, 2026 By Admin Tinggalkan Komentar

Sekarang apa-apa AI. Mulai dari chatbot, aplikasi pengolah gambar, sampai teknologi AI yang membantu pekerjaan sehari-hari, dan semuanya membutuhkan dukungan komputasi yang besar.

Tahu kan, kalau semua teknologi tersebut dijalankan melalui data center atau pusat data yang menampung ribuan server untuk menyimpan dan mengolah informasi? Agar bisa beroperasi selama 24 jam, fasilitas ini membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan stabil.

Penggunaan AI yang terus berkembang ikut mendorong pembangunan data center baru. Artinya, kebutuhan listrik berpotensi meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi ini membuka peluang bisnis bagi perusahaan energi, termasuk produsen batu bara, penyedia energi terbarukan, dan perusahaan ketenagalistrikan.

Lantas, emiten energi di Indonesia mana saja yang berpotensi mendapat keuntungan dari perkembangan AI?

Mengapa Teknologi AI Membutuhkan Listrik dalam Jumlah Besar?

Mengapa Teknologi AI Membutuhkan Listrik dalam Jumlah Besar?

Setiap kali kamu menggunakan teknologi AI untuk membuat gambar, menyusun tulisan, mencari informasi, atau mengolah data, ada proses komputasi yang berlangsung di baliknya. Proses tersebut membutuhkan komputer berkemampuan tinggi yang bekerja di data center. Ada beberapa alasan mengapa fasilitas ini mengonsumsi listrik dalam jumlah besar.

1. Server Membutuhkan Daya Komputasi Tinggi

Server merupakan komputer khusus yang bertugas menerima permintaan, memproses informasi, lalu mengirimkan hasilnya kepada pengguna.

Untuk menjalankan teknologi AI, server membutuhkan daya komputasi besar, terutama ketika harus memproses model dengan jutaan hingga miliaran parameter. Semakin kompleks model AI yang digunakan, semakin besar sumber daya komputasi yang dibutuhkan.

Jumlah pengguna juga ikut memengaruhi konsumsi listrik. Ketika ribuan orang mengakses layanan AI secara bersamaan, server harus bekerja lebih keras untuk memproses setiap permintaan. Aktivitas tersebut membutuhkan pasokan listrik yang memadai agar layanan tetap berjalan lancar.

Baca juga: Bisnis Data Center Tumbuh, Saham Emiten Kabel Ikut Kebagian Sentimen Positif

2. Sistem Pendingin dan Perangkat Pendukung Ikut Mengonsumsi Listrik

Server yang bekerja terus-menerus menghasilkan panas. Jika suhunya terlalu tinggi, kinerja perangkat bisa menurun dan risiko kerusakan meningkat.

Karena itu, data center membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga suhu ruangan dan perangkat tetap stabil. Nah, sistem pendingin itu juga menggunakan listrik. Perangkat seperti pendingin udara, ventilasi, dan teknologi pendingin cair (liquid cooling), semuanya itu butuh listrik.

Selain server dan pendingin, data center juga membutuhkan listrik untuk menjalankan sistem penyimpanan data, jaringan komunikasi, perangkat keamanan, serta sumber daya cadangan ketika terjadi gangguan pasokan.

Artinya, konsumsi listrik data center enggak hanya berasal dari aktivitas komputasi. Seluruh perangkat yang menjaga fasilitas tetap beroperasi juga membutuhkan energi setiap hari.

3. Pelatihan dan Penggunaan AI Membutuhkan Energi Berkelanjutan

Perusahaan teknologi membutuhkan kapasitas komputasi besar untuk mengembangkan model AI baru. Proses pelatihan model (AI training) akan butuh pengolahan data dalam skala besar dengan perangkat komputasi yang bekerja secara intensif. Semakin kompleks model yang dikembangkan, semakin besar pula kebutuhan sumber daya untuk menyelesaikan proses tersebut.

Baca Juga  Ciri Saham Murahan dan Trik Menghindarinya

Setelah model AI siap digunakan, kebutuhan listrik tetap berlanjut. Setiap kali pengguna mengirimkan pertanyaan atau perintah, sistem harus memproses permintaan tersebut dan menghasilkan jawaban. Proses ini disebut AI inference.

Jadi, listrik dibutuhkan selama proses pengembangan sekaligus ketika layanan AI sudah digunakan oleh masyarakat. Seiring bertambahnya pengguna dan layanan berbasis AI, perusahaan teknologi membutuhkan kapasitas komputasi tambahan untuk menangani aktivitas tersebut.

Peluang bagi Emiten Energi di Indonesia

Meningkatnya penggunaan teknologi AI dan pembangunan data center membuka peluang bagi perusahaan yang bergerak di sektor energi.

Data center butuh pasokan listrik berkapasitas besar selama 24 jam. Kebutuhan tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap berbagai sumber energi, termasuk batu bara dan energi terbarukan.

Di Bursa Efek Indonesia, ada sejumlah emiten yang memiliki bisnis produksi energi, pembangkit, dan penyediaan listrik.

Tapi, sebelumnya disclaimer dulu ya. Daftar emiten berikut merupakan contoh perusahaan yang memiliki eksposur terhadap bisnis energi dan ketenagalistrikan, bukan rekomendasi untuk membeli sahamnya.

Pertumbuhan AI dan data center belum tentu langsung meningkatkan pendapatan setiap perusahaan. Kamu tetap perlu memeriksa kapasitas produksi, kontrak penjualan listrik, proyek yang sedang berjalan, kondisi keuangan, dan kontribusi bisnis energi terhadap pendapatan masing-masing emiten.

Berikut beberapa kelompok emiten yang bisa kamu cermati.

1. Emiten Batu Bara

Batu bara masih menjadi salah satu sumber energi utama untuk pembangkit listrik di Indonesia. Sebagian besar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) menggunakan batu bara untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin. Selama pembangkit tersebut masih beroperasi, kebutuhan batu bara sebagai bahan bakar tetap ada.

Pertumbuhan data center berpotensi meningkatkan konsumsi listrik nasional. Jika pembangkit berbahan bakar batu bara masih digunakan untuk memenuhi tambahan kebutuhan tersebut, produsen batu bara bisa memperoleh peluang peningkatan permintaan dari pasar domestik.

Beberapa emiten yang memiliki bisnis batu bara antara lain:

  • PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)
  • PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
  • PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)

Meski memiliki peluang dari pertumbuhan kebutuhan listrik, prospek emiten batu bara tetap dipengaruhi harga batu bara global, volume produksi, biaya operasional, dan permintaan ekspor. Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) juga perlu diperhatikan karena memengaruhi kewajiban perusahaan dalam memasok batu bara untuk kebutuhan dalam negeri.

Selain itu, Indonesia sedang menjalankan transisi energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Jika penambahan kapasitas pembangkit lebih banyak menggunakan energi terbarukan, pertumbuhan permintaan batu bara bisa lebih terbatas.

2. Emiten Energi Terbarukan

Operator data center saat ini juga sudah mulai memperhatikan sumber listrik yang digunakan untuk menjalankan fasilitasnya. Konsumsi listrik dalam jumlah besar bisa meningkatkan jejak emisi karbon, terutama jika seluruh pasokannya berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil. Karena itu, energi terbarukan berpotensi menjadi pilihan bagi perusahaan teknologi yang memiliki target pengurangan emisi.

Indonesia memiliki sejumlah sumber energi terbarukan yang bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik industri. Panas bumi, tenaga air, dan energi surya termasuk di antaranya. Beberapa emiten yang memiliki bisnis di sektor ini adalah:

  • PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
  • PT Arkora Hydro Tbk (ARKO)
  • PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN)
Baca Juga  Cara Mencari Laporan Keuangan di IDX Paling Mudah untuk Pemula

Selain panas bumi dan tenaga air, energi surya juga berpotensi mendukung operasional data center. Panel surya bisa dipasang di atap bangunan atau area sekitar fasilitas untuk menyediakan sebagian kebutuhan listrik. Namun, produksi listriknya bergantung pada intensitas cahaya matahari. Karena itu, data center tetap membutuhkan sumber listrik lain atau sistem penyimpanan energi agar pasokan tersedia pada malam hari.

Salah satu emiten yang memiliki bisnis pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) adalah PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR). Perusahaan ini mengembangkan PLTS di fasilitas pelanggan dan kantor operasionalnya. Hingga akhir 2025, kapasitas PLTS yang dikelola mencapai 45,7 MWp.

3. Emiten Ketenagalistrikan

Pertumbuhan industri AI dan pembangunan data center membutuhkan dukungan perusahaan yang mampu menyediakan listrik dalam kapasitas besar. Operator data center memerlukan pasokan stabil karena gangguan listrik bisa menghambat operasional server dan layanan digital.

Dalam industri ketenagalistrikan Indonesia, PT PLN (Persero) masih memegang peran utama. PLN bertanggung jawab atas penyediaan listrik nasional, termasuk pembangkitan, transmisi, dan distribusi.

Tapi, PLN bukan perusahaan terbuka yang sahamnya diperdagangkan di BEI. So, kamu bisa mencermati emiten swasta yang memiliki bisnis pembangkit atau penyediaan listrik sebagai alternatif eksposur di pasar saham.

Beberapa emiten yang memiliki bisnis di sektor ketenagalistrikan antara lain:

  • PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR)
  • PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA)

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?

Pertumbuhan teknologi AI dan pembangunan data center memang membuka peluang bagi emiten energi. Namun, kenaikan permintaan listrik belum tentu langsung meningkatkan laba perusahaan.

Kamu perlu melihat kondisi keuangan, kapasitas produksi, dan kemampuan perusahaan menjalankan proyek ekspansi sebelum mengambil keputusan investasi.

Ada beberapa indikator yang bisa kamu periksa untuk menilai prospek emiten energi.

1. Periksa Kinerja Keuangan dan Prospeknya

Cek laporan keuangannya, cek kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan dan laba. Coba periksa pertumbuhan pendapatan, laba bersih, margin keuntungan, serta arus kas operasional dalam beberapa periode terakhir.

Misalnya, pendapatan perusahaan meningkat karena volume penjualan listrik bertambah. Namun, jika laba bersihnya malah turun, kamu perlu mencari tahu penyebabnya. Bisa jadi biaya produksi meningkat atau perusahaan sedang menanggung beban operasional dan pembiayaan yang lebih besar.

Selain itu, gunakan beberapa rasio keuangan untuk membantu analisis, seperti PER, ROE, DER, hingga OPM. Jangan lupa cek juga arus kas operasional. Perusahaan bisa saja mencatat laba bersih positif, tetapi uang tunai yang dihasilkan dari kegiatan bisnisnya masih terbatas.

Kondisi tersebut bisa memengaruhi kemampuan perusahaan membayar kewajiban, membiayai operasional, dan menjalankan proyek baru.

Baca Juga  IHSG di Bawah 6.000 dan Tantangan MSCI 2026: Menguji Ketahanan Fundamental Saham Big Banks

2. Perhatikan Kapasitas Produksi dan Rencana Ekspansi

Kenaikan kebutuhan listrik akan menjadi peluang bagi emiten energi jika perusahaan mampu menyediakan pasokan tambahan. Karena itu, periksa kapasitas produksi yang sudah beroperasi, tingkat pemanfaatannya, dan proyek pengembangan yang sedang dikerjakan.

Untuk emiten batu bara seperti PTBA dan AADI, kamu bisa melihat target produksi tahunan, volume penjualan, cadangan batu bara, serta kontrak pasokan domestik. Informasi tersebut membantu memperkirakan kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik.

Sementara itu, jika sedang mengamati emiten energi terbarukan seperti PGEO dan BREN, perhatikan kapasitas pembangkit yang sudah beroperasi dan perkembangan proyek baru. Cari tahu juga kapan proyek tersebut diperkirakan selesai dan mulai menghasilkan pendapatan.

Besaran belanja modal atau capex juga perlu diamati. Perusahaan energi membutuhkan dana besar untuk membangun pembangkit, membeli peralatan, dan mengembangkan jaringan listrik. Kalau ekspansi dibiayai dengan utang, periksa kemampuan perusahaan membayar cicilan dan bunganya.

Proyek yang molor dari jadwal bisa membuat perusahaan mengeluarkan biaya lebih lama sebelum memperoleh pemasukan.

3. Pantau Kebijakan Energi Pemerintah dan Investasi Data Center

Kebijakan pemerintah ikut menentukan arah perkembangan industri energi. Salah satu dokumen yang bisa kamu jadikan acuan adalah Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.

Dokumen tersebut memuat rencana penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan sekitar 70% berasal dari energi baru terbarukan dan sistem penyimpanan energi. Informasi ini bisa membantu kamu melihat jenis pembangkit yang akan dikembangkan dalam beberapa tahun mendatang sekaligus peluang bisnis bagi perusahaan energi.

Selain kebijakan energi, pantau juga perkembangan investasi data center di Indonesia. Perhatikan lokasi pembangunan fasilitas baru, kapasitas listrik yang dibutuhkan, jadwal operasional, dan perusahaan yang mendapatkan kontrak penyediaan listrik.

Sebagai gambaran, pada Oktober 2026 pemerintah menyampaikan bahwa pengembangan pusat data nasional berpotensi membutuhkan tambahan pasokan listrik sebesar 20 GW. Pemerintah juga mendorong pengembangan kawasan data center di Batam, Karimun, dan Bintan dengan dukungan infrastruktur energi bersih.

Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan listrik yang perlu disiapkan untuk menopang industri digital. Meski begitu, kamu tetap perlu memantau realisasi investasinya. Pengumuman pembangunan data center belum otomatis menjadi pendapatan bagi emiten energi sebelum proyek berjalan dan kontrak penyediaan listrik terealisasi.

Baca juga: Sektor Energi Jadi Jawara Kuartal III 2026, Apa Prospeknya Selanjutnya?

Gunakan Value untuk Membantu Analisis Saham

Supaya proses analisis lebih praktis, kamu bisa menggunakan Value sebagai salah satu sumber informasi saham. Data dari value bisa bantu kamu memeriksa harga saham, laporan keuangan, rasio valuasi, dan kinerja emiten.

Perkembangan teknologi AI memang membuka peluang bisnis baru bagi industri energi. Namun, kamu tetap perlu melihat kemampuan setiap perusahaan dalam memanfaatkan peluang tersebut. Periksa kondisi keuangan, kapasitas produksi, kontrak bisnis, dan realisasi proyek ekspansi sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Ditempatkan di bawah: Saham Ditag dengan:AI, bisnis data center, data center, emiten batu bara, emiten energi, emiten energi terbarukan, energi terbarukan, investor saham, listrik, PLN, saham energi, server AI, tenaga listrik

Related Posts

  • Sektor Energi Jadi Jawara Kuartal III 2026, Apa Prospeknya Selanjutnya?
  • Bisnis Data Center Tumbuh, Saham Emiten Kabel Ikut Kebagian Sentimen Positif
  • FTSE Review Saham Indonesia: Apa Artinya bagi IHSG dan Dana Asing?
  • Efek Domino Buka-Tutup Selat Hormuz: Berkah atau Petaka bagi Emiten Logistik Laut Indonesia?
  • IHSG di Bawah 6.000 dan Tantangan MSCI 2026: Menguji Ketahanan Fundamental Saham Big Banks

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Instagram
  • LinkedIn
  • Twitter
  • YouTube

Podcast Diskartes

Buku Investasi (Katanya…)

buku saham terbaik

Copyright © 2026 diskartes