Pembangunan data center di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan terhadap layanan komputasi cloud, penyimpanan data, dan infrastruktur digital. Pertumbuhan ini tidak hanya mendorong investasi pada fasilitas bisnis data center, tetapi juga menciptakan kebutuhan baru terhadap berbagai infrastruktur pendukung.
Salah satu kebutuhan tersebut adalah kabel. Data center membutuhkan kabel listrik untuk memasok dan mendistribusikan daya, sementara fiber optik dan jaringan telekomunikasi diperlukan untuk menghubungkan pusat data dengan jaringan komunikasi serta pengguna. Semakin besar kapasitas data center yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur tersebut.
Perkembangan bisnis data center kemudian menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan investor di pasar saham. Ekspektasi terhadap meningkatnya permintaan kabel ikut mendorong perhatian terhadap sejumlah emiten kabel di Bursa Efek Indonesia.
Namun, pergerakan saham masing-masing emiten tetap dipengaruhi oleh kondisi bisnis, kinerja keuangan, serta prospek perusahaan, sehingga kenaikannya tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan pertumbuhan data center.
Saham Emiten Kabel Sempat Kompak Menguat
Pergerakan saham emiten kabel ikut mendapat perhatian ketika pembangunan bisnis data center menguat. Namun, pergerakan saham ini enggak semata-mata ditentukan oleh prospek data center. Kondisi bisnis, kinerja keuangan, kapasitas produksi, serta ekspektasi investor terhadap masing-masing perusahaan turut memengaruhi harga saham.
Mari kita lihat satu per satu.
1. CCSI
CCSI menjadi salah satu saham kabel yang mengalami kenaikan paling besar dalam sebulan terakhir. Pada 24 Agustus 2026, saham ini ditutup di Rp254. Sehari setelahnya, 23 September, CCSI ditutup di Rp422. Artinya, harga sahamnya sudah naik sekitar 66 persen dalam periode tersebut.
Perusahaan memiliki bisnis yang cukup dekat dengan kebutuhan infrastruktur digital. CCSI memproduksi kabel serat optik, kabel listrik, serta kabel bawah laut. Perusahaan juga memiliki kapasitas produksi serat optik hingga 2,7 juta kilometer per tahun di fasilitasnya di Cilegon.
CCSI memiliki bisnis kabel serat optik dan infrastruktur konektivitas yang ikut dibutuhkan dalam pembangunan data center dan jaringan digital. Karena itu, perkembangan sektor tersebut menjadi salah satu sentimen yang mendorong minat terhadap saham CCSI.
Namun, kenaikan harga saham perlu dilihat bersama kinerja keuangan perusahaan. Harga saham dapat naik karena investor sudah memperkirakan pertumbuhan bisnis di masa depan, meski hasilnya belum terlihat dalam laporan keuangan.
Baca juga: Unlocking Hidden Value: Bagaimana Spin-Off Fiber Bisa Mengubah Profil Risiko Emiten Telekomunikasi
2. JECC
Pergerakan JECC juga cukup tajam. Harga sahamnya berada di Rp630 pada 24 Agustus 2026, kemudian mencapai Rp790 pada 23 September. Dengan demikian, saham JECC naik sekitar 24 persen dalam satu bulan. Saham ini bahkan sempat mencapai Rp985 di bursa 15 September 2026.
JECC memiliki bisnis kabel yang mencakup kebutuhan kelistrikan dan telekomunikasi. Karakter bisnis tersebut membuat perusahaan ikut berada dalam rantai pasok infrastruktur yang dibutuhkan ketika pembangunan fasilitas digital meningkat.
Nah, yang penting untuk dicatat, bahwa kenaikan saham JECC juga perlu dilihat bersama kondisi keuangannya. Data semester I-2026 menunjukkan kinerja perusahaan belum tumbuh sejalan dengan kenaikan harga sahamnya. Karena itu, sentimen data center lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu faktor yang membentuk ekspektasi pasar, bukan sebagai gambaran langsung mengenai pertumbuhan laba perusahaan.
3. KBLM
KBLM bergerak dengan kenaikan yang lebih moderat dibandingkan CCSI dan JECC. Saham ini ditutup pada Rp304 pada 24 Agustus 2026 dan berada di Rp360 pada 23 September. Pergerakannya setara dengan kenaikan sekitar 18 persen dalam satu bulan.
Dari sisi fundamental, KBLM memiliki perkembangan yang cukup menarik pada semester I-2026. Pendapatan perusahaan mencapai sekitar Rp1,29 triliun, naik 47,3 persen secara tahunan. Laba bersih juga meningkat menjadi Rp29,9 miliar atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut memberi konteks tambahan terhadap kenaikan saham KBLM. Permintaan kabel dari proyek data center menjadi salah satu sentimen industri, sementara pertumbuhan pendapatan dan laba menunjukkan adanya perkembangan pada bisnis perusahaan. Investor tetap perlu melihat komposisi pendapatan, margin, order book, serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan tersebut pada periode berikutnya.
Kebutuhan Listrik Data Center Jadi Katalis bagi Industri Kabel
Pertumbuhan data center membawa kebutuhan listrik yang sangat besar. Mengacu pada RUPTL PLN 2025 – 2034, konsumsi listrik untuk industri data center diproyeksikan naik dari sekitar 1.098 MW pada 2025 menjadi 2.122 MW pada 2026. Angkanya masih diperkirakan meningkat sampai 5.226 MW pada 2034. Dari kebutuhan 2034 tersebut, sekitar 4.621 MW diproyeksikan berada dalam sistem PLN dan 605 MW melalui PLN Batam.
Kenaikan kebutuhan listrik itu ikut memperbesar kebutuhan terhadap infrastruktur kelistrikan. Data center membutuhkan pasokan daya yang stabil dan kapasitas jaringan yang memadai. Artinya, pembangunan fasilitas baru tidak berhenti pada gedung dan server. Ada kebutuhan kabel listrik, jaringan transmisi dan distribusi, gardu induk, serta berbagai perangkat pendukung agar listrik bisa sampai ke fasilitas data center dengan kapasitas dan keandalan yang dibutuhkan.
Peluangnya bagi industri kabel juga datang dari proyek kelistrikan di luar data center. Dalam RUPTL 2025 – 2034, PLN merencanakan pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer sirkuit. Jaringan ini akan menghubungkan pembangkit, termasuk pembangkit energi terbarukan, dengan gardu induk dan pusat konsumsi listrik. Pengembangan jaringan tersebut membutuhkan berbagai jenis kabel dan perangkat kelistrikan.
Permintaan kabel juga bisa mendapat dukungan dari pembangunan jaringan fiber optik dan infrastruktur telekomunikasi. Data center membutuhkan konektivitas berkapasitas tinggi untuk terhubung dengan jaringan lain dan pengguna. Ketika kapasitas pusat data bertambah, kebutuhan konektivitas ikut berkembang.
Karena itu, prospek industri kabel enggak hanya bergantung pada pembangunan data center. Ekspansi jaringan listrik PLN, proyek energi terbarukan, kawasan industri, dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi ikut membentuk permintaan.
Kondisi tersebut memberi ruang pertumbuhan bagi produsen kabel, meski besarnya manfaat yang diterima setiap emiten tetap bergantung pada jenis produk, kapasitas produksi, kontrak yang diperoleh, dan kinerja bisnis masing-masing perusahaan.
Prospek Industri Kabel Masih Cerah, tapi Ada Risiko
So, gimana nih setelah ini?
Well, pertumbuhan data center memang memberi tambahan peluang bagi industri kabel, tetapi permintaannya enggak cuma dari sektor ini saja.
Program kelistrikan PLN, pembangunan jaringan transmisi, energi terbarukan, kawasan industri, dan infrastruktur telekomunikasi ikut menjadi sumber permintaan. RUPTL PLN 2025–2034 sendiri mencakup pembangunan 47.758 kilometer sirkuit jaringan transmisi dan penambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW.
Gambaran tersebut membuat prospek pasar kabel Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Salah satu proyeksi industri memperkirakan ukuran pasar wire and cable Indonesia meningkat dari sekitar US$1,58 miliar pada 2025 menjadi US$1,75 miliar pada 2026, lalu mencapai US$2,09 miliar pada 2031. Angka ini merupakan proyeksi riset, sehingga tetap perlu dibaca sebagai estimasi pasar, bukan angka realisasi.
Karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan investor. Mari kita lihat apa saja.
1. Lihat Order Book Perusahaan
Kenaikan permintaan industri belum tentu langsung masuk menjadi pendapatan emiten. Perusahaan perlu memenangkan tender atau mendapatkan kontrak lebih dulu. Besarnya order book dapat memberi gambaran mengenai pekerjaan yang sudah diperoleh dan potensi pendapatan ke depan.
2. Perhatikan Jenis Kabel yang Diproduksi
Kebutuhan kabel listrik untuk proyek transmisi enggak sama dengan kebutuhan fiber optik untuk jaringan telekomunikasi atau data center. CCSI, misalnya, memiliki eksposur yang lebih dekat dengan fiber optik, sedangkan JECC dan KBLM lebih banyak berkaitan dengan kabel listrik dan proyek kelistrikan.
3. Jangan Lewatkan Margin
Penjualan yang naik belum tentu membuat laba tumbuh dengan laju yang sama. Harga tembaga dan aluminium menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena kedua bahan tersebut merupakan komponen penting dalam produksi kabel. BPS mencatat indeks harga perdagangan besar kabel listrik naik 25,08% secara tahunan pada Juni 2026.
Perubahan harga bahan baku juga bisa menekan margin ketika kenaikannya tidak dapat diteruskan ke harga jual. Kurs rupiah menjadi faktor tambahan bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan bahan baku atau transaksi dalam dolar AS. Keterlambatan proyek dapat ikut menggeser waktu pengakuan pendapatan.
Baca juga: Emiten Transportasi Masuk Era Mobil Listrik, Sekadar Tren atau Strategi Bisnis?
4. Kondisi Keuangan
Kondisi keuangan masing-masing emiten pun perlu dilihat sebelum mengaitkan kenaikan saham dengan pertumbuhan industri. Pada semester I-2026, misalnya, pendapatan KBLM naik 47,3% menjadi Rp1,29 triliun dan laba bersih tumbuh 7,2% menjadi Rp29,9 miliar. Sebaliknya, pendapatan JECC turun 4,4% dan laba bersihnya turun 57,8% menjadi Rp20,2 miliar.
Artinya, sentimen data center dapat membantu membentuk ekspektasi terhadap industri kabel, tetapi perkembangan harga saham tetap perlu dibaca bersama kinerja perusahaan. CCSI sendiri mencatat laba bersih semester I-2026 sekitar Rp1,8 miliar, dengan margin bersih 1,2%, sehingga kenaikan harga sahamnya perlu dilihat dalam konteks ekspektasi pertumbuhan bisnis ke depan.
Karena itu, investor sebaiknya enggak cuma lihat saham kabel yang sedang naik. Data harga terbaru, laporan keuangan, order book, utang, margin, serta proyek yang sedang dikerjakan perlu diperiksa sebelum menilai prospeknya.
Data pasar yang terbaru juga bisa dimanfaatkan untuk melihat apakah pergerakan harga masih sejalan dengan perkembangan fundamental perusahaan. Data saham punya Value bisa digunakan untuk memantau data saham dan informasi emiten secara lebih praktis, sehingga investor dapat melihat pergerakan saham sekaligus mengecek data yang mendukungnya.

Tinggalkan Balasan