Biaya operasional merupakan salah satu komponen terpenting bagi emiten transportasi. Salah satunya adalah bahan bakar minyak. Kalau kondisinya seperti sekarang, yang harga BBM naik turun tanpa bisa diprediksi, pastinya akan cukup bikin puyeng. Apalagi kalau jumlah kendaraan yang dioperasikan semakin banyak. Kenaikan BBM makin kerasa banget, jadinya.
Kondisi tersebut membuat kendaraan listrik (EV) mulai dilirik oleh perusahaan transportasi. Enggak cuma karena alasan ramah lingkungan dan mengurangi emisi, tetapi juga dengan adanya peluang menekan biaya operasional.
Tapi, gimana ya hitung-hitungan ekonominya? Apa iya, bisa menekan biaya operasional seefisien yang diharapkan? Coba yuk, kita telusuri.
Mengapa Emiten Transportasi Mulai Melirik Mobil Listrik?
Sebelum hitung-hitung, coba kita lihat dulu apa yang membuat kendaraan listrik menarik bagi emiten transportasi. Ada beberapa komponen biaya yang cukup signifikan nih.
1. Biaya Bahan Bakar
BBM ini salah satu pengeluaran rutin bagi perusahaan transportasi yang mengoperasikan banyak kendaraan setiap hari. Semakin tinggi jarak tempuh dan jumlah armada, semakin besar pula kebutuhan bahan bakarnya.
Kendaraan listrik bisa jadi alternatif. Energinya berasal dari baterai listrik. Nah, kalau biaya energi per kilometer lebih rendah, ada peluang memangkas pengeluaran operasional setiap kendaraan yang digunakan.
Baca juga: Efek Domino Buka-Tutup Selat Hormuz: Berkah atau Petaka bagi Emiten Logistik Laut Indonesia?
2. Biaya Operasional Kendaraan
Penghematan pada kendaraan listrik enggak cuma dari biaya energi doang. Mobil listrik punya sistem penggerak yang lebih sederhana. Jadinya, ada beberapa komponen di kendaraan ber-BBM yang enggak diperlukan di kendaraan listrik. Kayak oli mesin, misalnya.
So, kondisi tersebut dapat mengurangi kebutuhan perawatan rutin. Bagi perusahaan transportasi, pengurangan biaya per kendaraan kayak gini ya lumayan.
3. Mengurangi Ketergantungan terhadap Harga BBM
Harga BBM Indonesia berubah-ubah mengikuti kondisi pasar energi dan kebijakan pemerintah. Bagi perusahaan transportasi, hal ini ya cukup ngefek langsung ke biaya perjalanan armada.
Kalau pakai kendaraan listrik, perusahaan jadi punya alternatif sumber energi lain. Jadi, struktur biaya operasional pun enggak bergantung pada BBM sepenuhnya.
4. Mengikuti Perubahan Industri Transportasi
Yah, mau gimana lagi kan? Ke depannya, teknologi akan terus berkembang. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan seoptimal mungkin, betul?
Perkembangan kendaraan listrik juga begitu. Kalau mau survive, emiten transportasi harus menyesuaikan diri. Perusahaan perlu mempertimbangkan teknologi kendaraan yang dapat mendukung efisiensi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar dan perkembangan kebijakan transportasi.
Karena itu, beberapa emiten mulai menguji EV pada layanan atau rute yang paling sesuai dengan karakter operasional mereka. Hasil pengujian tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah penggunaan kendaraan listrik layak diperluas ke lebih banyak armada.
Emiten Transportasi dan Mobil Listrik Mereka
| Emiten | Bisnis | Pemanfaatan Mobil Listrik | Tujuan Utama | Potensi Dampak |
| BIRD | Taksi | Armada taksi | Mengurangi biaya BBM dan perawatan | Efisiensi biaya operasional armada |
| WEHA | Intercity shuttle DayTrans | Pengujian EV untuk layanan shuttle | Menghemat biaya operasional perjalanan | Potensi penurutnan biaya per perjalanan |
| ASSA | Rental kendaraan dan logistik | Pemanfaatan EV untuk kebutuhan armada | Meningkatkan efisiensi penggunaan kendaraan | Potensi efisiensi biaya armada dan operasional |
1. BIRD: Armada Taksi Mulai Bergerak ke Kendaraan Listrik
PT Blue Bird Tbk (BIRD) sudah mulai menggunakan kendaraan listrik dalam layanan taksinya. Bluebird saat ini menyediakan beberapa pilihan EV, termasuk BYD E6 dan BYD T3, sementara Tesla Model X digunakan untuk layanan taksi eksekutif. Armada EV tersebut tersedia di sejumlah kota seperti Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya, dan Medan.
Di Surabaya, misalnya, Bluebird mengoperasikan 50 unit BYD E6 untuk layanan taksi dari Bandara Juanda. Di Medan, perusahaan menambah 25 unit taksi EV pada 2026.
So, bisa dibilang, EV memang sudah mulai benar-benar ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan armada, bukan sekadar uji coba lagi.
Bluebird menyebutkan, bahwa operasional EV lebih efisien dari sisi bahan bakar dan perawatan dibandingkan mobil konvensional.
2. WEHA: Kendaraan Listrik untuk Shuttle Antarkota
PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) memiliki bisnis intercity shuttle melalui DayTrans, yang melayani perjalanan antarkota. DayTrans sendiri merupakan salah satu lini utama WEHA setelah perseroan mengakuisisi bisnis shuttle tersebut.
Penggunaan EV pada layanan shuttle juga merupakan salah satu upaya emiten transportasi ini untuk mengendalikan biaya perjalanan. Kendaraan yang digunakan secara rutin butuh bahan bakar dalam jumlah besar, sehingga perubahan sumber energi dapat memengaruhi biaya operasional per perjalanan.
WEHA masih perlu melihat hasil penggunaan kendaraan listrik secara langsung sebelum menentukan seberapa jauh armada tersebut akan diperluas.
3. ASSA: Mobil Listrik di Bisnis Logistik dan Rental
PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) memiliki bisnis yang lebih luas daripada dua emiten transportasi sebelumnya. Mereka punya lini rental kendaraan korporasi, layanan logistik, jasa pengemudi, sampai penjualan kendaraan bekas.
Karena itu, perubahan teknologi kendaraan berpotensi memengaruhi struktur biaya perusahaan bagi WEHA.
Pada bisnis rental, kendaraan listrik bisa menjadi pilihan untuk pelanggan yang membutuhkan kendaraan operasional dengan biaya penggunaan yang lebih efisien. Sementara di bisnis logistik, perhitungan EV memang perlu dicek agar sesuai dengan karakter perjalanannya. Jarak tempuh, kapasitas kendaraan, waktu pengiriman, beban muatan, serta kebutuhan pengisian daya akan sangat menentukan.
Jadi, peluang ASSA akan lebih banyak untuk mencari jenis operasi yang paling cocok untuk menghasilkan efisiensi dari armada listrik.
Hitung-Hitungan Ekonominya: Apakah Mobil Listrik Benar-Benar Lebih Hemat?
Untuk melihat gambaran ekonominya, mari kita coba bikin simulasi paling simpel.
Anggaplah satu kendaraan menempuh 60.000 km per tahun. Kendaraan konvensional diasumsikan mengonsumsi 12 km/liter, sedangkan EV 6,67 km/kWh atau 15 kWh/100 km. Angka ini diambil dari situs DJKN ya.
| Komponen | Kendaraan BBM | Kendaraan Listrik |
| Konsumsi energi | 1 liter/12 km | 15 kWH/100 km |
| Harga energi | Rp10.000/liter | Rp1.445/kWH |
| Biaya energi per 100 km | Rp83.333 | Rp21.675 |
| Jarak tempuh per tahun | 60.000 km | 60.000 km |
| Biaya energi per tahun | Rp50 juta | Rp13 jutaan |
| Potensi penghematan | – | Rp37 jutaan |
1. Sekitar Rp50 juta untuk BBM per Tahun
Dengan asumsi konsumsi 1 liter untuk setiap 12 km, kendaraan membutuhkan sekitar 5.000 liter BBM untuk menempuh 60.000 km dalam setahun. Jika harga BBM yang digunakan dalam simulasi Rp10.000 per liter, perusahaan perlu mengeluarkan sekitar Rp50 juta per kendaraan per tahun hanya untuk bahan bakar.
2. Sekitar Rp13 juta untuk Energi Listrik per Tahun
Dengan konsumsi listrik 15 kWh per 100 km, kendaraan membutuhkan sekitar 9.000 kWh untuk menempuh 60.000 km. Jika biaya listrik diasumsikan Rp1.445 per kWh, kebutuhan energinya sekitar Rp13 juta per tahun.
Artinya, dari sisi energi saja terdapat selisih sekitar Rp37 juta per kendaraan setiap tahun.
Sekali lagi ini asumsi ya. PLN mencatat tarif rata-rata pelanggan bisnis pada 2025 berbeda menurut wilayah dan kelompok pelanggan, sehingga angka Rp1.445 per kWh di atas sebaiknya diposisikan sebagai asumsi simulasi. Tarif yang berlaku bisa berbeda untuk setiap perusahaan.
3. Kalau Harga EV Lebih Mahal Rp100 Juta, Kapan Nutup?
Misalnya kendaraan listrik membutuhkan investasi awal Rp400 juta, sedangkan kendaraan konvensional yang digunakan sebagai pembanding Rp300 juta. Ada selisih harga Rp100 juta.
Dengan potensi penghematan energi sekitar Rp37 juta per tahun, selisih investasi tersebut secara kasar bisa tertutup dalam sekitar 2,7 tahun. Perhitungan ini belum memasukkan biaya servis, suku cadang, depresiasi, pajak, asuransi, biaya charger, maupun biaya pendanaan.
4. Biaya Perawatan Bisa Memperpendek Waktu Balik Modal
Jika biaya servis kendaraan listrik benar lebih rendah, penghematannya bisa bertambah. Misalnya perusahaan menghemat lagi Rp5 juta per tahun dari biaya perawatan, total penghematan menjadi sekitar Rp42 juta per tahun. Dengan angka tersebut, selisih investasi Rp100 juta bisa tertutup dalam waktu sekitar 2,4 tahun.
Namun, angka tersebut tetap berupa asumsi. Hasil sebenarnya sangat bergantung pada harga kendaraan, jarak tempuh, tarif listrik, harga BBM, biaya perawatan, serta tingkat pemakaian armada.
Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Adopsi mobil listrik bisa menjadi sumber efisiensi bagi emiten transportasi, tetapi investor perlu melihat dampaknya terhadap bisnis secara keseluruhan. Jadi, apa saja yang perlu dicermati?
1. Jumlah Armada EV yang Dimiliki
Semakin besar armada EV, semakin besar pula potensi dampaknya terhadap biaya operasional. Namun, angka tersebut perlu dilihat bersama total armada perusahaan agar investor tahu seberapa besar porsi kendaraan listrik dalam bisnisnya.
2. Target Penambahan Armada EV
Perhatikan rencana perusahaan untuk menambah kendaraan listrik dalam beberapa tahun ke depan. Target yang agresif pastinya butuh modal lebih besar, sehingga perlu dilihat bersama kemampuan keuangan perusahaan.
3. Persentase EV terhadap Total Armada
Persentase ini memberi gambaran seberapa jauh proses elektrifikasi sudah berjalan. Perusahaan yang memiliki 100 EV dari total 1.000 kendaraan tentu berada pada tahap berbeda dengan perusahaan yang sudah menggunakan EV untuk sebagian besar armadanya.
4. Penghematan Biaya Operasional
Klaim efisiensi perlu dilihat dari realisasinya. Investor dapat mencermati apakah biaya energi, perawatan, atau biaya per kilometer benar-benar turun setelah EV digunakan. Angka ini lebih berguna untuk menilai dampak EV terhadap bisnis dibandingkan sekadar jumlah kendaraan.
5. Capex Kendaraan Listrik
Pembelian armada EV membutuhkan belanja modal. Jika perusahaan melakukan ekspansi besar-besaran, investor perlu melihat apakah capex tersebut masih sejalan dengan arus kas dan kemampuan pendanaan perusahaan atau enggak.
6. Investasi Infrastruktur Charging
Biaya elektrifikasi juga termasuk pengadaan charger, instalasi listrik, lahan, dan fasilitas pendukung lainnya. Besarnya investasi ini akan ikut menentukan berapa lama perusahaan bisa memperoleh kembali modal yang dikeluarkan.
7. Utilisasi Kendaraan
EV yang jarang digunakan enggak akan efisien sih. Semakin tinggi tingkat pemakaian kendaraan, semakin banyak perjalanan yang bisa menghasilkan penghematan biaya energi. Karena itu, aspek ini perlu dipantau.
Dalam bisnis rental dan transportasi, utilisasi memang menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat seberapa produktif armada menghasilkan pendapatan.
8. Dampak terhadap Margin
Ini salah satu indikator yang paling penting. Jika efisiensi dari EV mulai menurunkan biaya operasional sementara pendapatan tetap tumbuh, margin perusahaan berpeluang ikut membaik.
Investor perlu melihat laporan keuangan untuk memastikan manfaat tersebut benar-benar mulai muncul dalam kinerja perusahaan.
Nah, data saham dari Value bisa nih, bantu investor membandingkan fundamental, kinerja, dan prospek emiten sebelum menentukan saham yang paling sesuai dengan strategi masing-masing.
Baca juga: Dunia Bergejolak, Harga Minyak Ikut Meledak: Pola yang Terulang Sepanjang Sejarah
EV Jadi Senjata Efisiensi Emiten Transportasi
BIRD, WEHA, dan ASSA sama-sama bergerak di bisnis transportasi, tetapi penggunaan armadanya enggak sama.
BIRD mengoperasikan taksi, WEHA menggunakan armada untuk layanan shuttle, sedangkan ASSA punya bisnis rental dan logistik. Perbedaan pola perjalanan, jarak tempuh, dan tingkat utilisasi membuat manfaat kendaraan listrik perlu dinilai berdasarkan kondisi masing-masing perusahaan.
Bagi emiten transportasi, keberhasilan adopsi EV akhirnya akan terlihat dari angka operasional dan laporan keuangan. Jika biaya energi dan perawatan turun tanpa mengurangi produktivitas kendaraan, penggunaan EV bisa membantu memperbaiki efisiensi. Sebaliknya, investasi armada dan infrastruktur yang besar perlu diimbangi dengan utilisasi yang cukup agar modal yang dikeluarkan bisa menghasilkan manfaat ekonomi.
Karena itu, analisis investor sebaiknya enggak berhenti pada jumlah kendaraan listrik yang dimiliki setiap emiten. Perhatikan aspek-aspek yang sudah dijelaskan di atas.
Data kinerja juga menunjukkan skala bisnis ketiga emiten enggak sama. Pada 2025, BIRD mencatat laba bersih sekitar Rp635,8 miliar, ASSA Rp417,7 miliar, sedangkan WEHA Rp22,2 miliar.
Data dari Value bisa membantu investor membandingkan kinerja dan fundamental emiten, sehingga pilihan saham enggak hanya didasarkan pada tren kendaraan listrik, tetapi juga pada kondisi bisnis perusahaan secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan