• BLOG
  • Buku
  • Podcast
  • Video
  • Testimonials
  • Data

Diskartes - Blog Investasi dan Ekonomi

Blog Perencanaan Keuangan, Investasi Saham, Cryptocurrency, dan Ekonomi.

  • Ekonomi
  • Saham
  • Blockchain
  • Perencanaan Keuangan
  • Fintech
  • Bisnis
Anda di sini: Beranda / Ekonomi / Bank Syariah Tembus Rekor Aset, Apakah Saatnya Investor Beralih?

Bank Syariah Tembus Rekor Aset, Apakah Saatnya Investor Beralih?

Maret 10, 2026 By Writer Tinggalkan Komentar

Mumpung Ramadan, gak ada salahnya sekarang bahas yang ada kaitannya. Yes, bank syariah. Apalagi, konon, kinerjanya di bursa lagi moncer nih.

Setiap kali Ramadan datang, minat terhadap produk keuangan syariah memang biasanya ikut naik. Orang mulai pengin tahu, gimana sih cara kerja bank syariah? Ada dorongan untuk lebih selaras antara keyakinan dan keputusan finansial. Hal tersebut wajar, dan justru sehat karena menunjukkan kesadaran.

Tapi tak jarang, diskusi tentang bank syariah hanya berhenti di permukaan. Seolah-olah perbedaannya hanya soal bunga dan bagi hasil. Padahal, kalau di lantai bursa, teteup ya—investor kudu masuk ke laporan keuangan; lihat gimana bank tersebut mengelola risiko, menjaga kualitas pembiayaan, dan mempertahankan profit.

Dalam hal ini, bank konvensional dan bank syariah sama-sama harus menjaga likuiditas. Mereka tetap ada business to do. Sama-sama harus memastikan kredit atau pembiayaan tidak macet. Sama-sama mengejar pertumbuhan yang sesuai dengan yang diharapkan.

Yes, Ramadan memang bisa menjadi momentum. Aktivitas ekonomi meningkat, konsumsi naik, transaksi digital ramai. Bank syariah bisa ikut terdorong karena sentimen positif. Namun sentimen saja enggak cukup untuk menyimpulkan bahwa satu model lebih unggul dari yang lain.

Yang lebih penting adalah melihat data, kayak apa pertumbuhan asetnya, berapa laba bersih, gimana rasio pembiayaan bermasalah, efisiensi biaya, hingga respons pasar saham terhadap kinerja mereka.

Karena itu, tetap saja, setiap investor butuh data, selain bisa tetap menjalankan prinsip agama alau mau investasi saham di bank syariah. Kita harus lihat angka dan tren yang benar-benar terjadi. Pendekatan berbasis data membantu memisahkan mana pertumbuhan yang struktural dan mana yang hanya musiman.

Di titik ini, kalau ada data saham yang akurat bisa jadi sangat penting karena di situ pasti ada informasi yang lengkap dan terukur. So, pembahasan bank syariah vs bank konvensional bisa lebih jernih, terutama di tengah suasana Ramadan yang memang sering membuat perhatian lebih tertuju pada sektor syariah.

Data Industri Terbaru: Aset Bank Syariah Tembus Rp1.000 Triliun

Kalau mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Oktober 2025, posisi industri perbankan syariah memang sedang berada dalam fase yang kuat. Total asetnya sudah menembus Rp1.028,18 triliun.

Angka ini di dunia bisnis tuh disebut sebagai “angka psikologis”, karena melewati batas seribu triliun rupiah. Ini tandanya skala industrinya sudah masuk level matang. Dengan aset sebesar itu, bank syariah bukan lagi sektor alternatif yang kecil, melainkan bagian penting dalam struktur perbankan nasional.

Pertumbuhannya pun enggak bisa dianggap biasa. Secara tahunan, aset industri ini naik 11,34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan dua digit seperti ini menunjukkan bahwa ekspansi masih berlangsung secara konsisten. Bahkan, capaian itu banyak disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah industri perbankan syariah di Indonesia lho. Ini artinya, ada pencapaian baru dalam skala bisnisnya.

Kenaikan aset bank syariah ini enggak berdiri sendiri, melainkan cerminanbahwa kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap layanan keuangan berbasis syariah itu meningkat.

Apa yang mendorong hal ini? Ya, bisa jadi banyak hal, kayak penyaluran pembiayaan yang terus berjalan, penghimpunan dana yang semakin besar, serta inovasi produk yang makin variatif. Jadi, bukan cuma sentimen sesaat, tetapi ada perbaikan dari sisi struktur bisnis dan perluasan basis nasabah.

Baca Juga  Bisnis Prostitusi, Tertua Namun Tak Mereda

Dari sisi intermediasi, data menunjukkan pembiayaan per Oktober 2025 mencapai Rp685,55 triliun. Artinya, tumbuh 7,78% secara tahunan.

Angka ini menggambarkan fungsi utama bank berjalan dengan baik. Dana yang dihimpun enggak mengendap terlalu lama, tetapi disalurkan kembali ke sektor riil. Pertumbuhan pembiayaan yang stabil kayak gini tuh penting karena menjadi sumber pendapatan utama sekaligus indikator bahwa aktivitas ekonomi yang dibiayai masih bergerak.

Yang lebih menarik justru terlihat pada sisi likuiditas. Dana Pihak Ketiga (DPK) melonjak 14,26% YoY menjadi Rp820,79 triliun. Ini merupakan penghimpunan dana tertinggi sejak perbankan syariah berdiri di Indonesia.

Apa artinya ini? Artinya, sekali lagi, ada indikasi meningkatnya kepercayaan masyarakat Indonesia untuk menempatkan dana di bank syariah.

Dengan begitu, bisa dibilang, kondisi ini membuat ruang gerak lebih longgar. Bank memiliki cadangan dana yang cukup untuk menyalurkan pembiayaan tanpa harus terlalu agresif mencari sumber pendanaan yang mahal.

Dengan basis aset yang membesar, likuiditas yang kuat, serta intermediasi yang berjalan relatif mulus, industri perbankan syariah dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan. Proyeksi ini sejalan dengan ekspektasi perbaikan ekonomi nasional.

Nah, tapi, tetap perlu dicermati ya, apakah tren ini murni struktural atau ada kontribusi faktor musiman seperti momentum Ramadan dan peningkatan literasi keuangan syariah?

Baca juga: Saham Yang Untung dan Tertekan Saat Bulan Puasa

Performa Saham: Siapa Unggul di Pasar?

Performa Saham Bank Syariah: Siapa Unggul di Pasar?

Sejak awal 2026, saham-saham bank syariah bergerak cukup menarik. Kenaikannya terlihat lebih konsisten dibandingkan beberapa bank konvensional besar yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.

Biasanya, bank berkapitalisasi jumbo atau big caps seperti bank konvensional papan atas menjadi motor indeks. Namun dalam beberapa waktu terakhir, justru emiten perbankan syariah mampu mencuri perhatian. Pergerakannya relatif lebih agresif.

Ini menunjukkan bahwa pasar sedang memberi ruang lebih besar pada sektor syariah. Ada pergeseran minat investor yang mulai melihat potensi pertumbuhan di emiten saham perbankan syariah. Mari kita lihat dua yang paling moncer.

1. BRIS

Kalau melihat kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), gambaran umumnya cukup solid. Sejak awal tahun, sahamnya sempat menguat sekitar 5% ke kisaran Rp2.350 per saham. Pergerakan ini sejalan dengan laporan fundamental yang menunjukkan pertumbuhan masih terjaga.

Pendapatan BRIS sepanjang tahun lalu tumbuh sekitar 11,75% menjadi Rp28,17 triliun. Laba bersih kuartal terakhir juga naik menjadi Rp1,99 triliun. Dari sisi operasional, mesin bisnisnya tetap berjalan stabil, termasuk kontribusi pendapatan berbasis komisi yang meningkat signifikan.

Fungsi intermediasi pun masih kuat. Pembiayaan tumbuh 14,49% hingga Rp318,84 triliun. Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 16,2% menjadi Rp380 triliun, dengan pertumbuhan CASA hampir 19%. CASA sendiri adalah dana murah dari giro dan tabungan—dana ini penting karena membantu menekan biaya.

Sementara itu, margin pembiayaan atau NIM terjaga di kisaran 5,59%. Dan, cost of fund (CoF) turun menjadi 2,23%, menunjukkan efisiensi dari sisi pendanaan. Dari aspek risiko, rasio pembiayaan bermasalah (NPF) berada di level 1,81% dan cost of credit tetap terkendali.

Secara umum, kombinasi pertumbuhan pembiayaan, likuiditas yang kuat, margin yang stabil, serta kualitas aset yang terjaga menjadi fondasi kinerja BRIS saat ini. Untuk melihat detail rasio, histori pergerakan, dan perbandingan dengan bank lain secara lebih lengkap, kamu bisa mengakses data yang lebih komprehensif seperti yang disediakan oleh Value sebagai perusahaan data saham tepercaya.

Baca Juga  Orang Bijak Pilih Saham Atau Reksadana?

2. BTPS

Berbeda dengan BRIS, kinerja PT BTPN Syariah Tbk (BTPS) sepanjang 2025 terlihat lebih menantang. Meski sahamnya sejak awal tahun masih mampu bertahan di zona hijau di kisaran Rp1.210 per saham, pergerakannya relatif terbatas.

Secara tahunan, laba bersih BTPS tetap tumbuh 13% menjadi Rp1,23 triliun. Namun capaian ini sedikit di bawah ekspektasi pasar. Tekanan datang dari kenaikan beban operasional serta tingginya biaya kredit, terutama di kuartal terakhir 2025.

Margin pembiayaan juga mengalami penyesuaian, sementara rasio efisiensi meningkat. Kuartal IV-2025 menjadi periode yang cukup berat dengan penurunan laba secara tahunan dan kuartalan. Faktor eksternal seperti banjir di Sumatra disinyalir ikut berdampak pada pembentukan cadangan tambahan.

Meski demikian, ada perbaikan di sisi kualitas aset. Rasio pembiayaan bermasalah menunjukkan tren membaik dan cadangan yang dimiliki semakin kuat. Pertumbuhan pembiayaan juga mulai menunjukkan tanda pemulihan, terutama dari segmen institusi keuangan non-bank.

Secara umum, BTPS sedang berada dalam fase konsolidasi. Untuk melihat detail rasio, tren historis, serta perbandingannya dengan emiten saham perbankan lain, kamu bisa mengakses data lengkap melalui data yang disediakan Value.

3. Emiten Lainnya

Nah, tapi, namanya juga bursa, enggak semua saham bank syariah bisa bergerak searah. Saham PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS), misalnya, cenderung stagnan. Sejak awal tahun, harganya nyaris enggak banyak bergerak dan masih berkutat di level gocap. Ini menunjukkan minat pasar terhadap prospek saham ini masih terbatas.

Situasinya lebih berat bagi PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK). Saham bank digital syariah ini justru terkoreksi cukup dalam, turun sekitar 33% sejak awal tahun dan berada di kisaran Rp630 per saham. Penurunan sebesar itu biasanya mencerminkan tekanan ekspektasi pasar terhadap kinerja atau prospek pertumbuhan jangka pendek.

Meski ada volatilitas di beberapa emiten, secara keseluruhan sektor perbankan syariah masih dinilai memiliki ruang pertumbuhan. Kinerja yang beragam ini justru menunjukkan bahwa investor perlu melihat data masing-masing emiten secara detail, bukan menilai sektor secara umum.

Lalu, Apa Kabar Bank Konvensional?

Kalau bank syariah terlihat mulai agresif di awal tahun, bagaimana dengan bank konvensional? Apakah mereka benar-benar tertinggal?

Kalau melihat angka year to date, beberapa bank besar justru sedang terkoreksi. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat turun sekitar 10,84% sejak awal tahun. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga melemah tipis sekitar 0,49% YtD. Padahal secara fundamental, keduanya bukan bank kecil. Justru mereka adalah tulang punggung indeks, dengan kapitalisasi pasar jumbo dan jaringan yang luas.

Ambil contoh BMRI. Secara laba, performanya sebenarnya sangat kuat. Laba sudah menembus Rp60 triliun. Asetnya mencapai sekitar Rp2.830 triliun. Infrastruktur dan jaringan bisnisnya sulit disaingi bank yang lebih kecil. Kepercayaan publik juga tinggi karena posisinya sebagai bank besar dengan dukungan negara. Dari sisi bisnis, moat-nya jelas tebal. Pertanyaannya, kenapa harga sahamnya belum ikut melesat?

Alasan lebih lengkap soal dinamika saham BMRI ini sudah dibahas di Instagram andhika.diskartes ya. Silakan langsung capcus, enggak akan dibahas detail di sini, biar enggak makan tempat.

Baca Juga  10 Pelaku Pasar Modal yang Utama dan Harus Dikenali

Hal yang sama juga berlaku pada BBCA dan BBRI. Ketiganya tetap mencatat laba besar dan struktur bisnis yang sangat kuat. Namun di pasar saham, kinerja operasional enggak selalu langsung tercermin pada harga. Kadang pasar sudah lebih dulu mengantisipasi pertumbuhan tersebut, sehingga ruang kenaikan menjadi lebih terbatas.

Di sinilah terlihat perbedaan karakter antara bank konvensional besar dan bank syariah. Bank konvensional big caps punya kapitalisasi besar, jaringan luas, dan basis nasabah yang mapan. Stabilitasnya tinggi, tetapi pertumbuhannya cenderung lebih matang. Sementara bank syariah, terutama yang sedang ekspansi, bisa terlihat lebih “lincah” karena ruang pertumbuhannya masih terbuka.

Namun bukan berarti bank konvensional kalah, karena teteup, merekalah pilar sistem keuangan nasional. Hanya saja, dinamika pasar saham membuat investor mulai membagi perhatian. Sebagian melihat stabilitas big caps sebagai jangkar portofolio. Sebagian lagi melihat potensi akselerasi pada sektor syariah.

Baca juga: 5 Jenis Investasi Syariah yang Perlu Investor Pemula Ketahui dan Pertimbangkan

So, Mau Investasi di Saham Bank Syariah? Baca Ini Dulu

Jadi, kalau saham bank, baik bank syariah maupun bank konvensional, bergerak naik, apakah itu memang berarti kinerjanya bagus? Ya, sebenarnya nggak selalu gitu juga.

Harga saham bisa naik karena sentimen, ekspektasi, atau sekadar arus dana jangka pendek. Sebaliknya, prospek saham juga bisa turun meski labanya besar.

So, investor enggak cukup hanya melihat grafik harga. Yang lebih penting adalah memahami apa yang terjadi di balik angka-angka laporan keuangan. Beberapa rasio dasar sebenarnya sudah cukup memberi gambaran. Kayak NIM, CoF, CASA, sampai NPF.

Intinya, investor perlu melihat kualitas pertumbuhan, bukan hanya angkanya saja. Laba naik dua digit belum tentu berarti kondisi sehat jika biaya kredit melonjak atau efisiensi memburuk. Sebaliknya, pertumbuhan moderat dengan rasio yang stabil bisa jadi malah jalan terus. Membaca data seperti ini membantu melihat apakah kenaikan harga saham didukung fundamental atau sekadar euforia.

Perbandingan dengan bank konvensional juga penting sebagai tolok ukur. Bank syariah bisa terlihat tumbuh cepat, tetapi perlu dilihat bagaimana margin, efisiensi, dan kualitas asetnya dibandingkan bank besar seperti BBCA, BMRI, atau BBRI. Benchmark ini membantu menempatkan angka dalam konteks yang lebih luas.

Di sinilah peran data saham dari Value menjadi penting. Bukan hanya menyajikan headline atau ringkasan laba, tetapi menyediakan data rasio, tren historis, dan perbandingan antar emiten saham perbankan secara lebih lengkap. Dengan data yang tersusun rapi dan mudah dibaca, investor bisa membuat keputusan berdasarkan pemahaman, bukan sekadar mengikuti narasi pasar.

So, Ramadan mungkin memberi momentum tambahan bagi sektor syariah, tetapi yang benar-benar menentukan tetaplah fundamental. Pertumbuhan aset, kualitas pembiayaan, efisiensi biaya, dan konsistensi laba jauh lebih penting dibanding pergerakan harga jangka pendek. Investor yang sabar membaca data biasanya punya pijakan yang lebih kuat dalam mengambil keputusan.

Karena itu, sebelum menyimpulkan hanya dari tren grafik atau kabar yang sedang ramai, ada baiknya melihat angka secara utuh. Dengan dukungan data yang komprehensif dari Value sebagai perusahaan data saham tepercaya, investor bisa menilai potensi masing-masing bank dengan lebih tenang dan rasional.

Ditempatkan di bawah: Ekonomi, Saham Ditag dengan:bank konvensional, bank syariah vs bank konvensional, beli saham, harga saham, investasi saham, saham BRIS, saham BTPS, saham syariah

Related Posts

  • Saham Yang Untung dan Tertekan Saat Bulan Puasa
  • Tren Harga Emas Menguat, Gimana Prospek Sahamnya?
  • Membeli Saham, Kapan Waktu yang Tepat?
  • Strategi Investasi Jangka Panjang dengan Saham
  • Value Investing vs Growth Investing: Mana yang Lebih Baik?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Instagram
  • LinkedIn
  • Twitter
  • YouTube

Podcast Diskartes

Buku Investasi (Katanya…)

buku saham terbaik

Copyright © 2026 diskartes