Biaya kesehatan itu jadi salah satu tantangan tersendiri dalam sistem kesehatan di Indonesia. Apalagi buat rumah sakit yang harus memastikan ketersediaan obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) secara berkelanjutan. Kebutuhan tersebut sudahlah besar, juga berulang. Jadinya, biaya pengadaan obat ini memang penting banget untuk bisa efisien.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sejak 2025 menjalankan konsolidasi pengadaan obat dan BMHP di rumah sakit melalui pendekatan pool procurement berbasis data. Sederhananya, kebutuhan dari sejumlah fasilitas kesehatan dikonsolidasikan agar proses pengadaan dapat dilakukan dengan volume yang lebih besar dan berdasarkan data kebutuhan yang lebih akurat.
Nah, pada Juli 2026, Kemenkes menyebut konsolidasi pengadaan tersebut ternyata bisa bikin anggaran jadi lebih hemat sebesar Rp1,8 triliun dalam dua tahun. Lumayan juga dong ya.
Terus, kayak apa ya dampaknya, baik untuk industri farmasi maupun untuk rumah sakit? Gimana perubahan ini memengaruhi rumah sakit, baik dari segi biaya maupun ketersediaan obat?
Kenapa Pengadaan Obat Perlu Diefisienkan?
Biaya pengadaan obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) itu enggak kecil. Rumah sakit perlu beli stok dalam jumlah besar. Mereka wajib memastikan pelayanan kesehatan tetap jalan, tetapi di saat yang sama harus mengelola anggaran biar enggak habis hanya untuk biaya pengadaan. Kalau prosesnya enggak efisien, biaya yang dikeluarkan bisa lebih besar dari yang seharusnya.
Masalahnya, kebutuhan obat dan BMHP di setiap rumah sakit bisa berbeda-beda. Belum lagi kalau pengadaannya terpisah, yang bikin volume pembelian tersebar di banyak tempat. Biaya operasional akan membengkak.
Nah, di sinilah ada sistem pool procurement. Apa itu pool procurement?
Simpelnya, pool procurement adalah sistem yang memungkinkan penggabungan atau pengonsolidasian kebutuhan pengadaan dari sejumlah fasilitas kesehatan.
Jadi, dengan sistem ini, alih-alih setiap rumah sakit jalan sendiri-sendiri, kebutuhan dikumpulkan jadi satu dulu baru kemudian diusahakan pengadaannya. Dengan begitu, prosesnya jadi lebih rapi dan enggak masalah kalau mau dalam skala yang besar.
Tapi, konsolidasi saja enggak cukup. Di sini juga butuh data. Misalnya, data penggunaan obat, agar bisa dilihat jenis dan jumlah obat yang benar-benar dibutuhkan rumah sakit. Nah, dari data yang ada ini, akan kelihatan pola kebutuhannya. Kalau sudah ada pola, pengadaan pun bisa lebih terukur dan sesuai dengan kebutuhan. Jadi enggak mubazir dan efektif.
Data yang dikumpulkan dari pool procurement itu juga bisa jadi dasar untuk negosiasi dengan supplier, agar harganya lebih efisien. Jadi, tujuan akhirnya memang agar bisa membeli sesuai kebutuhan dengan proses dan harga yang lebih optimal.
Baca juga: Medical Tourism Indonesia: Peluang Besar yang Belum Digarap Maksimal
Dampak bagi Industri Farmasi
Konsolidasi biaya pengadaan obat dan BMHP kayak gini pasti bakal bawa perubahan bagi industri farmasi. Ketika kebutuhan rumah sakit dikumpulkan dan pengadaan dilakukan dalam volume yang lebih besar, perusahaan farmasi perlu menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif. Berikut beberapa dampak yang mungkin dirasakan industri farmasi.
1. Membuka Peluang Peningkatan Volume Penjualan
Pool procurement memungkinkan produsen mendapatkan pesanan dengan volume yang lebih besar karena kebutuhan dari sejumlah rumah sakit dikonsolidasikan. Bagi perusahaan yang memiliki kapasitas produksi dan distribusi memadai, kondisi ini bisa menjadi peluang untuk meningkatkan volume penjualan.
Namun, peluang tersebut juga datang dengan tuntutan yang lebih besar. Produsen juga wajib memastikan pasokan tetap tersedia sesuai jadwal dan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.
2. Meningkatkan Tekanan terhadap Harga
Ketika volume pengadaan menjadi lebih besar, posisi pembeli dalam melakukan negosiasi harga juga bisa semakin kuat. Nah, berarti ada PR tambahan nih buat pelaku industri farmasi, karena bakalan ada tuntutan untuk menawarkan harga yang lebih kompetitif biar produknya bisa masuk.
Bagi perusahaan, kondisi ini dapat menekan harga jual dan berpotensi memengaruhi margin keuntungan. Artinya, peningkatan volume penjualan belum tentu otomatis menghasilkan peningkatan keuntungan jika penurunan harga terlalu besar.
3. Mendorong Efisiensi Produksi
Tekanan harga akan menimbulkan tuntutan efisiensi produksi. Produsen perlu mencari cara agar biaya produksi tetap terkendali tanpa mengorbankan kualitas produk.
Produksi dalam skala yang lebih besar sebenarnya dapat memberikan keuntungan dari sisi skala ekonomi. Namun, manfaat tersebut baru bisa dirasakan kalau kapasitasnya juga bisa mengejar.
4. Persaingan Antarprodusen Bisa Semakin Ketat
Ketika pengadaan semakin terkonsolidasi, produsen berpotensi berhadapan dengan persaingan yang lebih ketat untuk mendapatkan kontrak dengan volume besar. Satu, pastinya dari segi harga. Selain itu, juga harus menunjukkan kemampuan menjaga kualitas, kontinuitas pasokan, dan ketepatan distribusi.
Dengan kata lain, pool procurement dapat menciptakan peluang pasar yang lebih besar, tetapi sekaligus meningkatkan standar persaingan bagi industri farmasi. Perusahaan yang mampu beroperasi secara efisien dan konsisten memenuhi kebutuhan dalam skala besar akan memiliki posisi yang lebih kuat.
Dampak bagi Rumah Sakit
Terus, kalau buat rumah sakit, dampaknya apa ya? Berikut beberapa di antaranya.
1. Potensi Menurunkan Biaya Pengadaan
Salah satu manfaat yang paling langsung adalah peluang mendapatkan harga obat dan BMHP yang lebih kompetitif. Dengan menggabungkan kebutuhan dari sejumlah rumah sakit, volume pengadaan menjadi lebih besar sehingga posisi tawar terhadap pemasok dapat meningkat.
Penurunan harga pengadaan ini dapat membantu rumah sakit menghemat anggaran. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk biaya pengadaan obat dan BMHP bisa digunakan secara lebih optimal untuk kebutuhan pelayanan kesehatan lainnya.
2. Pengelolaan Stok Bisa Lebih Efisien
Rumah sakit nantinya juga bisa menentukan jumlah obat dan BMHP dengan lebih akurat. Karena, stok yang terlalu banyak berisiko menimbulkan penumpukan dan pemborosan, terutama untuk produk yang memiliki masa kedaluwarsa. Sebaliknya, stok yang terlalu sedikit dapat meningkatkan risiko kekurangan obat ketika permintaan meningkat.
Nah, dengan perencanaan yang lebih akurat, pengelolaan persediaan bisa menjadi lebih terkendali.
3. Perencanaan Anggaran Menjadi Lebih Terukur
Data kebutuhan yang lebih akurat juga dapat membantu rumah sakit menyusun anggaran pengadaan. Rumah sakit memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai jenis dan jumlah obat yang dibutuhkan, sekaligus perkiraan biaya yang harus disiapkan.
Dengan begitu, fokusnya enggak cuma ke mencari obat murah doang, tetapi juga memastikan dana yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan operasional secara berkelanjutan.
4. Efisiensi Enggak Boleh Mengorbankan Kualitas
Meski penghematan menjadi salah satu tujuan utama, efisiensi pengadaan tetap enggak boleh hanya diukur dari seberapa murah harga obatnya. Kualitas dan keamanan obat tetap menjadi prioritas.
Jadi, rumah sakit wajib memastikan produk yang diperoleh memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku. Harga yang lebih rendah enggak akan berarti jika kualitas produk enggak terjamin atau justru menimbulkan masalah dalam pelayanan.
Lalu, Apa Artinya Pemangkasan Biaya Pengadaan Obat Ini bagi Investor?
Bagi investor, kebijakan pemangkasan biaya pengadaan obat dan BMHP ini enggak serta-merta menjadi kabar baik atau buruk untuk semua perusahaan farmasi dan rumah sakit. Karena dampaknya memang bisa berbeda.
So, investor sebaiknya enggak hanya melihat pergerakan harga saham setelah kebijakan diterapkan. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana kebijakan tersebut memengaruhi pendapatan, laba, margin keuntungan, efisiensi operasional, dan kondisi keuangan emiten dalam jangka lebih panjang.
Untuk menilainya, investor bisa melihat fundamental perusahaan secara lebih menyeluruh melalui data saham akurat seperti punya Value. Dengan memahami kinerja dan fundamental emiten, investor bisa menilai apakah perubahan kebijakan ini benar-benar memberikan dampak terhadap bisnis perusahaan, bukan sekadar bereaksi terhadap sentimen pasar.
Baca juga: Orang Indonesia Lebih Suka Berobat ke Luar Negeri, Ini Faktanya!
Efisiensi Pengadaan, Tantangan Baru bagi Industri Farmasi
Efisiensi biaya pengadaan obat dan BMHP memang akan memberikan dampak pada cara rumah sakit melakukan pengadaan, sekaligus cara industri farmasi bersaing untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Perubahan tersebut pada akhirnya akan memengaruhi kinerja masing-masing perusahaan secara berbeda. Karena itu, bagi investor, yang perlu diperhatikan bukan sekadar bagaimana pasar merespons kebijakan ini dalam jangka pendek, melainkan bagaimana dampaknya tercermin dalam pendapatan, laba, margin, efisiensi, dan kondisi fundamental perusahaan dalam jangka panjang.



Tinggalkan Balasan