• BLOG
  • Buku
  • Podcast
  • Video
  • Testimonials
  • Data

Diskartes - Blog Investasi dan Ekonomi

Blog Perencanaan Keuangan, Investasi Saham, Cryptocurrency, dan Ekonomi.

  • Ekonomi
  • Saham
  • Blockchain
  • Perencanaan Keuangan
  • Fintech
  • Bisnis
Anda di sini: Beranda / Ekonomi / Green Financing: Filter Baru yang Diam-Diam Menentukan Masa Depan Emiten

Green Financing: Filter Baru yang Diam-Diam Menentukan Masa Depan Emiten

April 1, 2026 By Admin Tinggalkan Komentar

Selama bertahun-tahun, cara bank menilai kelayakan sebuah perusahaan untuk diberi pinjaman itu enggak pernah berubah. Biasanya mereka akan melihat angka, mulai dari seberapa sehat laporan keuangan, seberapa stabil arus kas, dan seberapa kuat jaminan aset yang bisa diberikan. Namun, kehadiran green financing mulai menggeser pendekatan tersebut.

Sekarang, untuk memberikan pinjaman, bank juga mulai mempertanyakan bagaimana keuntungan itu diperoleh. Faktor lingkungan, tanggung jawab sosial, hingga tata kelola perusahaan, yang dikenal sebagai ESG (Environmental, Social, and Governance), mulai masuk ke dalam pertimbangan utama.

Ya, memang perubahannya belum seeksplisit itu sih. Paling jelas perusahaan dengan praktik bisnis yang kurang memperhatikan aspek ESG kalau mengajukan pendanaan memang enggak akan langsung ditolak. Tapi, prosesnya jadi lebih ketat, biaya pinjamannya bisa jadi lebih tinggi, hingga peluang pembiayaannya semakin terbatas.

Sementara itu, di sisi lain, perusahaan dengan profil ESG yang lebih baik cenderung memiliki akses yang lebih luas dan lebih efisien terhadap sumber pendanaan dari bank.

Perubahan ini enggak cuma kebijakan bank doang, tapi sudah diatur dalam regulasi. OJK melalui POJK No. 51/POJK.03/2017, disebutkan telah mewajibkan bank, emiten, dan perusahaan publik untuk menerapkan prinsip keuangan berkelanjutan serta menyusun laporan keberlanjutan (sustainability report). Regulasi ini menjadi sinyal bahwa faktor ESG bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan mulai menjadi bagian dari standar dalam sistem keuangan.

So, dengan adanya aturan green financing ini, akses modal enggak lagi cuma jadi hasil dari performa finansial semata, melainkan semakin terkait dengan bagaimana sebuah perusahaan menjalankan bisnisnya: Apakah selaras dengan prinsip keberlanjutan, atau justru berisiko dalam jangka panjang.

Apa Sih Green Financing Itu?

Simpelnya, green financing adalah pembiayaan yang ditujukan untuk aktivitas atau proyek yang memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Fokusnya bukan hanya pada keuntungan finansial, tetapi juga pada upaya menjaga keberlanjutan, seperti mengurangi emisi, meningkatkan efisiensi energi, atau meminimalkan kerusakan lingkungan.

Dalam praktiknya, green financing bisa mencakup berbagai jenis proyek. Misalnya, pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, penerapan teknologi yang meningkatkan efisiensi energi di sektor industri, hingga pembangunan green building yang dirancang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.

Proyek-proyek kayak gini dianggap memiliki nilai tambah karena tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga mengurangi risiko lingkungan dalam jangka panjang.

Peran bank dalam hal ini mulai bergeser dari sekadar penyedia dana menjadi pengarah aliran pembiayaan. Banyak bank kini mulai mengalokasikan porsi tertentu dalam portofolionya khusus untuk pembiayaan hijau. Artinya, ada upaya yang lebih terstruktur untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang dianggap sejalan dengan prinsip keberlanjutan.

Di Indonesia, arah ini juga diperkuat oleh regulator. Otoritas Jasa Keuangan melalui roadmap keuangan berkelanjutan mendorong lembaga jasa keuangan untuk meningkatkan porsi pembiayaan yang berorientasi pada aspek lingkungan dan sosial. Dengan dorongan ini, green financing tidak lagi sekadar inisiatif sukarela, tetapi mulai menjadi bagian dari transformasi sistem keuangan secara keseluruhan.

Baca juga: Demand Energi Berubah, Emiten Batubara Adaptif Atau Ketinggalan?

Kenapa Bank Makin Selektif?

Perubahan cara bank menyalurkan kredit bukan sekadar tren sesaat, tetapi hasil dari kombinasi tekanan eksternal dan pertimbangan risiko yang semakin kompleks. Ada setidaknya tiga faktor utama yang mendorong bank menjadi lebih selektif, terutama dalam konteks ESG.

Baca Juga  5 Ciri Pinjaman Online Ilegal yang Wajib Diwaspadai!

1. Tekanan dari Investor dan Global Market

Bank sekarang enggak hanya dinilai dari kinerja keuangan, tetapi juga dari kualitas penerapan prinsip ESG dalam bisnisnya. Investor institusi global, seperti dana pensiun dan manajer investasi besar, semakin ketat dalam menempatkan dana. Mereka juga cenderung memilih institusi keuangan yang memiliki portofolio pembiayaan yang lebih berkelanjutan.

Situasi ini membuat reputasi ESG menjadi faktor penting bagi bank. Akses mereka terhadap pendanaan, baik dari pasar global maupun domestik, sangat dipengaruhi oleh persepsi ini.

Akibatnya, bank perlu lebih berhati-hati dalam memilih debitur. Memberikan kredit ke perusahaan dengan risiko ESG tinggi bisa berdampak pada kepercayaan investor terhadap bank itu sendiri.

2. Risiko Jangka Panjang

Dari sisi internal, ESG ini bisa dianggap sebagai bagian dari manajemen risiko. Bisnis yang enggak ramah lingkungan memiliki potensi menghadapi tekanan regulasi di masa depan, kayak pembatasan emisi atau kebijakan pajak karbon. Ketika aturan semakin ketat, perusahaan yang enggak siap bisa mengalami kenaikan biaya operasional yang signifikan.

Selain itu, model bisnis yang enggak efisien dalam penggunaan energi atau sumber daya juga berpotensi menggerus profitabilitas dalam jangka panjang. Dampaknya gak berhenti di perusahaan saja, tetapi juga ke bank sebagai pemberi pinjaman. Risiko gagal bayar bisa meningkat seiring waktu.

3. Regulasi dan Arah Kebijakan

Dorongan regulasi dari negara juga semakin memperkuat arah ini. Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan secara aktif mendorong implementasi keuangan berkelanjutan melalui berbagai kebijakan.

Pada akhirnya, regulasi ini enggak cuma jadi imbauan, tetapi membentuk standar industri. Bank didorong untuk meningkatkan porsi pembiayaan hijau dalam portofolionya, sekaligus memperbaiki transparansi melalui pelaporan ESG yang lebih terstruktur.

Implementasi Green Financing di Perbankan

Penerapan green financing di Indonesia sudah mulai terlihat nyata melalui strategi dan portofolio pembiayaan bank-bank besar. Tapi pendekatannya enggak seragam, karena masing-masing bank memiliki fokus dan cara implementasi yang berbeda, tergantung pada segmen bisnis dan arah kebijakan mereka.

1. BBCA

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat pertumbuhan kredit ke sektor berkelanjutan mencapai Rp255 triliun pada akhir 2025. Angka ini tumbuh 11,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari total tersebut, Rp113 triliun dialokasikan khusus untuk green financing, sementara sisanya mengalir ke pembiayaan UMKM. So secara keseluruhan, porsi kredit berkelanjutan BCA sudah mencapai 25,8% dari total portofolio pembiayaannya, dan menunjukkan tren yang terus meningkat.

Dari sisi sektor, green financing BCA banyak didorong oleh sektor energi baru dan terbarukan (EBT). Nilainya bahkan meningkat hingga dua kali lipat, dengan total pembiayaan mencapai Rp6,2 triliun.

Selain itu, pembiayaan kendaraan listrik juga mengalami pertumbuhan signifikan. Kondisi ini sejalan dengan potensi besar sektor energi hijau di Indonesia, yang didukung target investasi pemerintah hingga Rp1.682 triliun dalam 10 tahun ke depan.

2. BMRI

Sementara itu, Bank Mandiri (BMRI) hingga akhir 2025, total kredit berkelanjutannya mencapai Rp316 triliun, tumbuh 8% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, Rp150 triliun dialokasikan untuk green financing, dengan fokus terbesar pada sektor seperti sustainable agriculture.

Baca Juga  7 Tip Memilih Sekuritas untuk Pemula

Selain itu, pembiayaan ke sektor energi terbarukan juga meningkat pesat, bahkan mencapai pertumbuhan hingga 76% dalam satu tahun.

Namun, di balik ekspansi tersebut, Bank Mandiri tetap menerapkan seleksi yang ketat. Debitur di sektor energi diwajibkan memenuhi standar lingkungan seperti AMDAL atau UKL-UPL, sebagai bagian dari mitigasi risiko.

3. BBNI

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mencatat portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp197 triliun, atau sekitar 22% dari total kreditnya. Pembiayaan ini tersebar di berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam, hingga pengolahan air dan limbah.

Salah satu pendekatan yang mulai dikembangkan adalah Sustainability-Linked Loans (SLL), yaitu skema kredit yang dikaitkan langsung dengan target keberlanjutan debitur. Dalam skema ini, perusahaan didorong untuk mencapai indikator tertentu, seperti pengurangan emisi atau peningkatan efisiensi lingkungan. Meskipun porsinya masih relatif kecil, tren ini menunjukkan arah baru dalam struktur pembiayaan yang lebih berbasis kinerja ESG.

4. BBTN

Di sisi lain, Bank Tabungan Negara (BBTN) mengambil pendekatan yang cukup berbeda. Fokus utama mereka ada pada pembiayaan sosial, terutama di sektor perumahan. Total kredit berkelanjutan BTN mencapai Rp203,45 triliun, dengan mayoritas disalurkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Menariknya, BTN secara eksplisit enggak memiliki portofolio di sektor yang dianggap berisiko tinggi terhadap lingkungan, seperti batubara dan sawit. Strategi ini berkontribusi pada penilaian ESG yang lebih baik, sekaligus memperkuat positioning mereka sebagai bank yang berorientasi pada pembiayaan berkelanjutan.

BTN juga mulai mengembangkan konsep rumah rendah emisi, termasuk penggunaan material daur ulang dalam pembangunan. Program ini didukung dengan skema pembiayaan berbunga rendah bagi developer yang memenuhi kriteria tertentu.

5. BRIS

Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) lebih banyak menyalurkan pembiayaan berkelanjutan ke sektor sosial, dengan total mencapai Rp73,92 triliun. Sekitar 79% pembiayaan difokuskan pada pemberdayaan UMKM, sementara sisanya dialokasikan untuk pembiayaan hijau, termasuk kendaraan listrik dan proyek berbasis keberlanjutan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa implementasi green financing tidak selalu identik dengan sektor lingkungan semata, tetapi juga mencakup aspek sosial yang menjadi bagian dari prinsip ESG secara keseluruhan.

Secara umum, implementasi green financing di perbankan Indonesia masih berada dalam fase berkembang, tetapi arahnya sudah semakin jelas. Setiap bank mulai membentuk strategi yang sesuai dengan karakter bisnisnya, sekaligus menyesuaikan diri dengan tuntutan regulasi dan pasar. Bagi investor, perbedaan pendekatan ini menjadi sinyal penting untuk memahami bagaimana masing-masing bank membaca peluang dan risiko di masa depan.

Dampak Penerapan Green Financing ke Investor Saham

Green Financing: Filter Baru yang Diam-Diam Menentukan Masa Depan Emiten

Perubahan cara bank menyalurkan kredit secara green financing pada akhirnya ikut mengubah cara investor membaca saham. Jika sebelumnya analisis lebih banyak bertumpu pada laba dan pertumbuhan pendapatan, kini ada lapisan baru yang tidak kalah penting, yakni keberlanjutan bisnis dan kemampuan perusahaan dalam mengakses pembiayaan.

Beberapa sektor bisa menjadi contoh yang cukup jelas untuk melihat pergeseran ini. Di sektor energi, misalnya, perusahaan batubara mulai menghadapi tekanan yang berbeda dibandingkan dengan perusahaan energi terbarukan yang justru mendapat dukungan lebih besar dari sisi pembiayaan.

Baca Juga  Rupiah Perlu, Tapi Investasi Dollar Juga Penting

Di sektor properti, konsep bangunan ramah lingkungan mulai menjadi nilai tambah, bukan hanya dari sisi pemasaran, tetapi juga dalam kemudahan akses kredit.

Hal yang sama juga terlihat di industri manufaktur. Di sektor ini, efisiensi energi dan pengelolaan sumber daya mulai berpengaruh terhadap persepsi risiko dan daya tarik perusahaan di mata pemberi dana.

Kondisi ini membuat analisis saham tidak lagi cukup jika hanya melihat angka laba dan revenue. Investor perlu memahami apakah model bisnis perusahaan masih relevan dalam jangka panjang, termasuk bagaimana peluang mereka mendapatkan pendanaan ke depan.

Di sinilah ESG mulai berperan sebagai indikator awal untuk membaca arah masa depan perusahaan. Sebuah perusahaan bisa terlihat kuat saat ini, tetapi tanpa adaptasi terhadap perubahan, posisinya bisa melemah dalam beberapa tahun ke depan.

Perubahan ini juga membuat proses analisis menjadi sedikit lebih rumit. Data yang dibutuhkan tidak lagi terbatas pada laporan keuangan, tetapi juga mencakup informasi yang lebih luas dan sering kali enggak mudah dibaca secara langsung. Investor membutuhkan pendekatan yang lebih terstruktur dan berbasis data untuk memahami perubahan ini secara utuh.

Agar memudahkan pemahaman, berikut gambaran pergeseran sebelum dan setelah green financing mulai diterapkan secara luas.

Aspek AnalisisSebelum Green Financing DominanSetelah Green Financing Diterapkan
Fokus utama analisisLaba, revenue, dan pertumbuhan bisnisKeberlanjutan bisnis + akses pembiayaan
Penilaian risikoRisiko finansial jangka pendekRisiko jangka panjang termasuk ESG
Akses pendanaan perusahaanRelatif netral, tergantung kinerja keuanganDipengaruhi oleh profil ESG perusahaan
Biaya modal (cost of capital)Ditentukan oleh kondisi keuangan dan pasarBisa lebih murah untuk perusahaan dengan ESG baik
Sektor yang diuntungkanSektor dengan profit tinggi (misalnya batubara)Sektor dengan profit tinggi (misalnya batubara)
Sektor yang tertekanTidak terlalu terlihatSektor dengan risiko lingkungan tinggi mulai tertekan
Cara membaca pertumbuhanFokus pada laporan keuangan historisMemperhatikan keberlanjutan model bisnis ke depan

Dalam konteks tersebut, data saham dari Value membantu menyederhanakan proses analisis. Ada data saham yang lebih komprehensif dan insight yang relevan untuk membaca pergerakan sektor. Dengan dukungan data yang tepat, investor dapat mengambil keputusan yang lebih terukur, bukan sekadar mengikuti tren.

Bagi yang ingin melihat bagaimana data digunakan untuk membaca perubahan sektor secara lebih konkret, insight berbasis analisis juga dapat ditemukan melalui Instagram @andhika.diskartes, yang secara rutin membahas dinamika pasar dari sudut pandang data.

Baca juga: Subsidi Energi Diperketat: Titik Balik Bisnis LPG 3 Kg?

ESG = Early Signal, Bukan Sekadar Tambahan

Perubahan dalam sistem pembiayaan dengan green financing menunjukkan bahwa akses modal sudah enggak lagi berjalan dengan pola yang sama seperti sebelumnya. Ada pergeseran yang cukup mendasar, di mana faktor non-keuangan mulai memainkan peran yang semakin besar dalam menentukan arah bisnis sebuah perusahaan.

ESG kini tidak lagi berada di posisi pelengkap, tapi sudah menjadi bagian dari penilaian utama, terutama dalam konteks bagaimana bank dan investor melihat risiko jangka panjang. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan standar ini cenderung memiliki posisi yang lebih kuat, baik dalam mendapatkan pembiayaan maupun dalam menjaga keberlanjutan bisnisnya.

Sebaliknya, perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko menghadapi tekanan yang tidak selalu terlihat di awal, tetapi bisa berdampak signifikan dalam jangka panjang. Akses modal bisa menjadi lebih terbatas, biaya pendanaan meningkat, dan ruang untuk ekspansi semakin sempit.

Bagi investor, perubahan ini membuka sudut pandang baru dalam membaca pasar. ESG dapat berfungsi sebagai early signal alias indikator awal untuk melihat apakah sebuah perusahaan memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bertahan dan berkembang ke depan.

Investor yang memahami pergeseran ini lebih awal memiliki peluang untuk mengambil keputusan yang lebih tepat, apalagi dengan bantuan data saham Value.

Ditempatkan di bawah: Ekonomi, Saham Ditag dengan:bisnis hijau, efisiensi energi, emiten saham, energi terbarukan, environmental social governance, ESG, kredit bank, kredit hijau, otoritas jasa keuangan, ramah lingkungan

Related Posts

  • Bank Syariah Tembus Rekor Aset, Apakah Saatnya Investor Beralih?
  • Saham Yang Untung dan Tertekan Saat Bulan Puasa
  • Tren Harga Emas Menguat, Gimana Prospek Sahamnya?
  • Subsidi Energi Diperketat: Titik Balik Bisnis LPG 3 Kg?
  • Kenapa BBCA, BBRI, BMRI Merosot ketika Krisis?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Instagram
  • LinkedIn
  • Twitter
  • YouTube

Podcast Diskartes

Buku Investasi (Katanya…)

buku saham terbaik

Copyright © 2026 diskartes