• BLOG
  • Buku
  • Podcast
  • Video
  • Testimonials
  • Data

Diskartes - Blog Investasi dan Ekonomi

Blog Perencanaan Keuangan, Investasi Saham, Cryptocurrency, dan Ekonomi.

  • Ekonomi
  • Saham
  • Blockchain
  • Perencanaan Keuangan
  • Fintech
  • Bisnis
Anda di sini: Beranda / Saham / Medical Tourism Indonesia: Peluang Besar yang Belum Digarap Maksimal

Medical Tourism Indonesia: Peluang Besar yang Belum Digarap Maksimal

Maret 13, 2026 By Admin Tinggalkan Komentar

Dalam beberapa tahun terakhir, cukup banyak warga Indonesia memilih berobat ke luar negeri, terutama melalui layanan medical tourism. Tujuannya ke negara-negara yang relatif dekat seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Tak sekadar perlu untuk tindakan medis besar, banyak orang ke luar negeri sekadar untuk pemeriksaan kesehatan rutin atau terapi lho.

Fenomena ini bukan cerita sporadis. Angkanya cukup besar untuk sekadar dianggap kebetulan. Lalu muncul pertanyaan, kenapa di sini belum gitu ya? Belum, atau sudah tapi enggak maksimal?

Fenomena Medical Tourism, Berobat ke Luar Negeri

Beberapa laporan menyebut sekitar 1 hingga 2 juta orang Indonesia setiap tahun pergi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan. Dari jumlah itu, sekitar 1 juta pasien menuju Malaysia dan sekitar 750 ribu ke Singapura, sementara sisanya menyebar ke negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat, atau Eropa. Hal ini pernah disampaikan oleh mantan presiden Jokowi suatu kali saat masih menjabat.

Angka tersebut tentu saja berdampak pada aliran uang. Belanja warga Indonesia untuk layanan kesehatan di luar negeri diperkirakan mencapai sekitar US$10 miliar per tahun, setara lebih dari Rp160 triliun jika dikonversi dengan kurs saat ini. Jumlah sebesar itu pada dasarnya menjadi devisa yang keluar dari Indonesia setiap tahun hanya untuk layanan kesehatan.

Jadi kalau dilihat statistiknya, Indonesia punya modal yang besar. Populasi yang besar berarti kebutuhan layanan kesehatan juga terus meningkat. Permintaan terhadap layanan spesialis, pemeriksaan kesehatan rutin, hingga terapi medis kompleks ikut naik seiring bertambahnya kelas menengah dan meningkatnya kesadaran kesehatan. Laporan Ken Research bahkan menunjukkan bahwa sektor medical tourism Indonesia sudah bernilai miliaran dolar jika dilihat dari aliran pasien keluar dan potensi pasien masuk.

Dengan kondisi seperti itu, muncul pertanyaan yang cukup menarik. Jika kebutuhan layanan kesehatan di Indonesia sangat besar dan permintaan terhadap layanan medis berkualitas terus naik, mengapa Indonesia belum muncul sebagai tujuan wisata medis utama di kawasan? Bahkan, kenapa WNI lebih suka memilih berobat ke luar negeri? Konon, alasannya antara lain:

  • Biaya, terutama untuk prosedur tertentu yang dianggap lebih kompetitif di negara tujuan. Sempat viral beberapa waktu yang lalu, seorang WNI didiagnosis kanker diminta untuk mempersiapkan dana kurang lebih sebesar Rp600 juta untuk tindakan medis di saolah satu RS di Indonesia. Setelah ditangani di Malaysia, ternyata hanya menghabiskan dana di kisaran Rp65 juta sudah termasuk rawat inap di kamar yang lumayan.
  • Waktu tunggu juga kerap lebih singkat. Di beberapa kasus, pasien merasa proses konsultasi hingga tindakan medis berjalan lebih cepat dan lebih jelas.
  • Persepsi kualitas layanan, terutama reputasi rumah sakit di negara tujuan yang sudah lebih dulu dikenal melalui pengalaman keluarga, rekomendasi dokter, atau cerita dari pasien lain.

Apa Indonesia memang “enggak tertarik” mengembangkan sektor ini? Apa pemerintah memang enggk mau nambah-nambah pemasukan?

Baca juga: Prospek Bisnis Kawasan Industri 2026: Masihkah Menjanjikan bagi Investor?

Roadmap Sudah Ada, tapi Apa yang Belum “Keliatan”?

Jawabannya, enggak. Sebenarnya Indonesia tertarik dan sadar betul bahwa ada peluang besar di sektor medical tourism ini. Bahkan, pemerintah sudah menyiapkan kerangka kebijakan melalui Dewan Nasional Wisata Medis dan Kesehatan (DNWMK) lho.

Salah satu program yang menjadi rujukan adalah Gerbang Sehat Indonesia, yang memuat arah pengembangan wisata medis nasional. Informasi mengenai program ini bisa dilihat di situs resmi Kementerian Kesehatan di ayosehat.kemkes.go.id.

Baca Juga  Orang Indonesia Lebih Suka Berobat ke Luar Negeri, Ini Faktanya!

Di situ kita bisa lihat, pemerintah memetakan beberapa wilayah sebagai pusat pengembangan layanan kesehatan berbasis wisata alias medical tourism. Beberapa daerah yang disebut dalam roadmap tersebut antara lain:

  • Bali, diarahkan pada layanan wellness, anti-aging, dan pemulihan kesehatan
  • Jakarta dan Surabaya, difokuskan untuk tindakan medis berteknologi tinggi
  • Batam, diposisikan sebagai hub yang melayani pasien regional karena lokasinya dekat Singapura dan Malaysia
  • Medan, diproyeksikan untuk menarik pasien dari wilayah Sumatra dan negara tetangga.
  • Yogyakarta serta Solo, diarahkan untuk menggabungkan layanan medis modern dengan terapi kesehatan berbasis tradisi.

Selain penentuan wilayah, roadmap tersebut juga mencantumkan target lain. Rumah sakit didorong mengejar standar akreditasi internasional, memperkuat kerja sama dengan institusi medis global, serta meningkatkan kualitas layanan spesialis dan subspesialis. Ada juga rencana integrasi dengan sektor pariwisata, mulai dari konektivitas bandara, fasilitas hotel, hingga layanan pendukung pasien dan keluarga selama masa perawatan.

Bagaimana Realitasnya?

Nah, mari kita bandingkan roadmap ini. Melihat negara tujuan berobat warga Indonesia, ekosistem medical tourism mereka kan sudah terbentuk cukup kuat. Malaysia menjadi salah satu contoh yang paling jelas.

Negara ini memiliki lembaga seperti Penang Medical Tourism Centre (PMTC) yang aktif mempromosikan rumah sakit di Penang kepada pasien internasional, termasuk dari Indonesia. Melalui jaringan promosi ini, pasien dapat memperoleh informasi dokter spesialis, estimasi biaya perawatan, hingga bantuan pengaturan perjalanan medis. Malaysia bahkan mengembangkan konsep halal medical tourism, yang pastinya jadi lebih mudah diterima oleh pasar Indonesia.

Singapura juga membangun strategi yang enggak kalah terstruktur. Pemerintah Singapura membentuk program Singapore Medicine pada tahun 2003 untuk mempromosikan negara tersebut sebagai destinasi medical tourism. Program ini melibatkan beberapa lembaga sekaligus, seperti Singapore Economic Development Board (EDB), Singapore Tourism Board (STB), dan Ministry of Health (MOH).

Melalui kolaborasi ini, Singapura mempromosikan jaringan rumah sakitnya ke berbagai negara dan memperkuat reputasinya sebagai pusat layanan kesehatan regional. Mount Elizabeth, Gleneagles, dan Parkway East adalah beberapa RS yang kerap menerima pasien internasional melalui jaringan promosi tersebut.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut, ekosistem medical tourism di Indonesia harus jujur diakui masih belum tergarap maksimal. Di dalam negeri memang sudah ada Indonesia Medical Tourism Board (IMTB), “agen wisata kesehatan” yang bertujuan memfasilitasi pasien internasional yang ingin datang berobat ke Indonesia. Namun skala promosi dan jangkauan pasarnya terlihat belum semasif Malaysia maupun Singapura.

Jumlah rumah sakit yang dikenal sebagai pusat rujukan regional juga belum banyak. Padahal, beberapa fasilitas kesehatan di Indonesia sebenarnya sudah memiliki teknologi medis dan tenaga dokter spesialis yang kompeten. Namun pengakuan di tingkat internasional belum tersebar luas.

Gampangannya, kalau ada pasien luar negeri mencari layanan medis di Asia Tenggara, nama rumah sakit di Malaysia atau Singapura biasanya muncul lebih dahulu dalam pencarian mereka.

Selain itu, ekosistem pendukung medical tourism juga belum terintegrasi sepenuhnya, karena kan layanan kesehatan lintas negara itu enggak berhenti pada tindakan medis saja. Ada berbagai kebutuhan lain yang menyertainya, mulai dari pengaturan perjalanan, akomodasi, layanan penerjemah medis, hingga kerja sama dengan asuransi internasional. Makanya di sini perlu ada agen. Tapi sejauh penelusuran memang hanya nama IMTB saja yang muncul.

Baca Juga  Pembagian Dividen: Apa yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Investasi

Di negara yang sudah lebih maju dalam medical tourism, berbagai layanan tersebut sudah terhubung dalam satu sistem yang rapi. Di Indonesia, integrasi seperti itu masih dalam bentuk roadmap.

Jika Semua Tercover, Apa Dampaknya ke Iklim Investasi?

Medical Tourism Indonesia: Peluang Besar yang Belum Digarap Maksimal

So, roadmap medical tourism di Indonesia memang sudah ada. Namun selama elemen-elemen penting seperti promosi internasional, integrasi layanan, dan penguatan reputasi rumah sakit belum berkembang secara luas, industri ini masih saja belum bergerakd ari garis start. Potensi ekonominya sih terbuka, tetapi realisasinya entah kapan.

Padahal, kalau ekosistemnya bisa terbentuk segera, dampaknya enggak hanya dirasakan oleh sektor kesehatan saj. Arus pasien internasional biasanya membawa nilai transaksi yang lebih besar dibanding layanan medis domestik.

Pasien yang datang dari luar negeri umumnya menggunakan paket layanan yang lebih lengkap, mulai dari pemeriksaan diagnostik, tindakan medis, hingga masa pemulihan. Nilai layanan per pasien bisa lebih tinggi, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan rumah sakit.

Perubahan seperti ini juga bisa berdampak pada perusahaan yang tercatat di bursa. Seperti siapa saja misalnya? Mari kita lihat satu per satu.

1. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)

MIKA termasuk salah satu jaringan rumah sakit swasta yang dikenal fokus pada segmen menengah hingga atas. Model bisnisnya sangat sesuai kalau medical tourism berkembang.

Pasien dari luar negeri umumnya mencari layanan spesialis dengan fasilitas yang nyaman dan proses administrasi yang jelas. Rumah sakit yang sudah terbiasa melayani pasien privat biasanya lebih siap memenuhi kebutuhan tersebut.

Dari sisi operasional, Mitra Keluarga juga dikenal menjaga efisiensi dan margin yang relatif stabil dibanding beberapa operator rumah sakit lain. Jika jumlah pasien premium meningkat, pendapatan per pasien berpotensi naik tanpa harus memperbesar volume pasien secara drastis. Struktur seperti ini bisa memperkuat profitabilitas.

2. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)

SILO memiliki jaringan rumah sakit yang besar, dan tersebar di Indonesia. Portofolionya mencakup berbagai kota besar dan menawarkan layanan medis yang cukup lengkap, mulai dari diagnostik hingga tindakan spesialis kompleks. Skala jaringan ini memberi keuntungan tersendiri ketika berbicara tentang medical tourism.

Rumah sakit dengan fasilitas lengkap seperti SILO akan lebih mudah menarik pasien dari luar negeri, yang butuh layanan yang terintegrasi, mulai dari pemeriksaan awal hingga perawatan lanjutan. Infrastruktur yang luas memungkinkan Siloam menyediakan berbagai jenis layanan dalam satu jaringan.

3. PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL)

Hermina selama ini dikenal kuat di pasar domestik, terutama dalam layanan kesehatan keluarga dan ibu-anak. Jaringan rumah sakitnya juga cukup luas di berbagai kota di Indonesia. Model bisnis ini membuat Hermina memiliki basis pasien yang stabil.

Memang sudah bagus, tapi kalau pengin “dapat kue” juga di sektor medical tourism, HEAL perlu memperluas layanan spesialis agar dapat menarik pasien internasional. Beberapa rumah sakit Hermina sudah mulai meningkatkan fasilitas dan layanan medisnya. Langkah tersebut membuka peluang untuk masuk ke segmen pasien yang lebih luas.

4. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)

Medical tourism juga melibatkan prosedur medis yang lebih kompleks, sehingga akan butuh teknologi medis yang lebih maju serta obat-obatan khusus. Kondisi tersebut dapat membuka peluang permintaan baru bagi perusahaan farmasi dan distributor alat kesehatan.

KLBF memiliki jaringan distribusi yang luas di Indonesia. Posisi ini membuat perusahaan cukup strategis untuk mendukung peningkatan layanan medis di berbagai rumah sakit.

Baca Juga  Jenis Indeks Saham Berdasarkan 12 Kriteria Penggolongan

5. PT Ciputra Development Tbk (CTRA)

Dampak medical tourism enggak cuma berhenti pada rumah sakit saja. Kawasan di sekitar fasilitas kesehatan juga ikut berkembang. Di berbagai negara, rumah sakit berstandar internasional bahkan banyak yang berkembang jadi pusat aktivitas ekonomi baru. Hotel, apartemen, restoran, dan fasilitas pendukung lain tumbuh di sekitarnya.

Ciputra Development dikenal sebagai pengembang yang memiliki pengalaman membangun kota mandiri. Jika konsep kawasan medis terpadu berkembang di Indonesia, pengembang properti seperti Ciputra dapat memanfaatkan peluang tersebut. Rumah sakit besar dapat menjadi anchor yang meningkatkan aktivitas di kawasan tersebut.

6. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA)

Summarecon memiliki pendekatan yang mirip dalam pengembangan kawasan terpadu. Beberapa proyeknya menggabungkan hunian, pusat perbelanjaan, fasilitas pendidikan, dan layanan kesehatan. Model seperti ini cukup cocok dengan konsep medical district.

Ketika rumah sakit berkembang menjadi pusat layanan regional, kawasan di sekitarnya dapat menjadi tempat tinggal sementara bagi pasien dan keluarga. Hotel, serviced apartment, serta fasilitas komersial menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Harapan dan Manfaat Lebih Luas

Jadi, sampai di sini bisa disimpulkan. Bahwa medical tourism itu enggak berhenti pada aktivitas rumah sakit. Ketika sebuah negara berhasil menarik pasien dari luar negeri, ada banyak sektor lain yang ikut bergerak, karena pasien yang datang biasanya enggak sendirian. Mereka membawa keluarga, membutuhkan tempat menginap, transportasi, serta layanan pendukung lain selama masa perawatan. Hotel, restoran, transportasi lokal, hingga jasa penerjemah medis ikut terlibat dalam rantai layanan ini. Aktivitas ekonomi yang muncul di sekitar layanan kesehatan bisa cukup luas.

Selain sektor pariwisata umum, ada juga peluang bagi usaha yang berkaitan dengan kesehatan dan kebugaran. Produk herbal, terapi tradisional, pusat kebugaran, hingga layanan pemulihan kesehatan bisa menjadi bagian dari pengalaman pasien selama melakukan medical tourism.

Di beberapa destinasi medis yang sudah berkembang, layanan seperti spa medis, terapi rehabilitasi, dan program wellness menjadi pelengkap perawatan utama. Model seperti ini membuka ruang bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang bergerak di bidang kesehatan dan gaya hidup sehat.

Ada pula dampak yang berkaitan dengan reputasi internasional. Negara yang dikenal memiliki layanan medis berkualitas akan lebih dipercaya untuk berbagai kerja sama kesehatan global, termasuk pendidikan dokter, penelitian medis, hingga pengembangan teknologi kesehatan.

Bagi Indonesia, peluang tersebut sebenarnya sudah mulai dipetakan dalam berbagai rencana pengembangan. Roadmap untuk medical tourism sudah tersedia dan arah kebijakan juga telah dirumuskan. Tantangan berikutnya berkaitan dengan implementasi yang konsisten. Infrastruktur kesehatan perlu terus diperkuat, standar layanan dijaga, dan promosi internasional dilakukan secara berkelanjutan.

Jika langkah-langkah tersebut berjalan dengan baik, dampaknya enggak hanya dirasakan oleh sektor kesehatan. Aktivitas ekonomi di sekitar kawasan medis bisa berkembang, peluang kerja baru muncul, dan devisa dari pasien internasional dapat masuk ke dalam negeri. Sektor kesehatan juga berpotensi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan baru, termasuk bagi perusahaan yang tercatat di pasar modal.

Baca juga: Brilian! Database Value Kunci Profit Investor Rasional

Mari kita berharap semoga pemerintah masih punya energi untuk bisa mengembangkan sektor ini ke depannya. Semakin cepat ekosistem medical tourism terbentuk secara utuh, semakin besar pula peluang manfaat ekonominya bagi Indonesia.

Ditempatkan di bawah: Saham Ditag dengan:berobat ke luar negeri, emiten kesehatan, industri pariwisata, peluang pariwisata, rumah sakit

Related Posts

  • Bank Syariah Tembus Rekor Aset, Apakah Saatnya Investor Beralih?
  • Saham Yang Untung dan Tertekan Saat Bulan Puasa
  • Tren Harga Emas Menguat, Gimana Prospek Sahamnya?
  • Prospek Bisnis Kawasan Industri 2026: Masihkah Menjanjikan bagi Investor?
  • Unlocking Hidden Value: Bagaimana Spin-Off Fiber Bisa Mengubah Profil Risiko Emiten Telekomunikasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Instagram
  • LinkedIn
  • Twitter
  • YouTube

Podcast Diskartes

Buku Investasi (Katanya…)

buku saham terbaik

Copyright © 2026 diskartes