• BLOG
  • Buku
  • Podcast
  • Video
  • Testimonials
  • Data

Diskartes - Blog Investasi dan Ekonomi

Blog Perencanaan Keuangan, Investasi Saham, Cryptocurrency, dan Ekonomi.

  • Ekonomi
  • Saham
  • Blockchain
  • Perencanaan Keuangan
  • Fintech
  • Bisnis
Anda di sini: Beranda / Ekonomi / Tren Harga Emas Menguat, Gimana Prospek Sahamnya?

Tren Harga Emas Menguat, Gimana Prospek Sahamnya?

Februari 5, 2026 By diskartes Tinggalkan Komentar

Kenaikan harga emas yang cukup tajam belakangan ini enggak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi global yang sedang penuh ketidakpastian. Konflik geopolitik di berbagai wilayah, tensi antarnegara besar, sampai perlambatan ekonomi di banyak negara membuat pasar keuangan jadi mudah goyah. 

Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman dan stabil. Emas sudah lama diposisikan sebagai pelindung nilai ketika kondisi dunia sedang gak menentu. Jadi, ketika risiko global meningkat, minat terhadap emas ikut terdorong naik.

Faktor Pendorong Harga Emas naik Tajam

Tapi gak cuma masalah geopolitik sih. Ada juga penyebab lain yang membuat harga emas jadi meroket akhir-akhir ini. Apa saja? Mari kita lihat satu per satu.

Kebijakan Suku Bunga

Selain faktor ketidakpastian, kebijakan suku bunga global juga ikut memengaruhi pergerakan harga emas. Ketika bank sentral di berbagai negara mulai memberi sinyal penurunan suku bunga atau setidaknya tidak seketat sebelumnya, daya tarik aset berbunga seperti deposito dan obligasi akan menurun, yang mengakibatkan instrumen seperti emas menjadi “lebih menarik”.

Emas as Safe Haven

Emas memang dikenal sebagai safe haven asset. Dengan kondisi sekarang, fungsi ini semakin terasa. Saat pasar saham bergejolak atau nilai mata uang terasa gak stabil, emas cenderung dipandang sebagai tempat “parkir” sementara yang lebih aman. Akhirnya demand pun naik.

Demand Sudah Level Negara

Lebih jauh, permintaan emas saat ini juga sudah naik kelas ke level negara, gak cuma individual atau komunitas kecil. Negara. 

Kayak India misalnya. Di postingan Instagram @andhika.diskartes ini dijelaskan bahwa porsi emas dalam cadangan devisa India naik signifikan, dari sekitar 10% menjadi mendekati 16% dalam waktu relatif singkat. Kenapa bisa gitu? Nah, boleh langsung intip aja penjelasannya ke postingan yang ditautkan di atas ya. Buat bocoran, silakan liat tabel cadangan emas India berikut ini.

Sementara itu, Tiongkok cadangan emasnya juga meningkat tajam dalam waktu singkat, dari sekitar 5% pada 2024 ke hampir 9% di akhir 2025. Ini berarti nyaris dua kali lipat dalam periode yang relatif singkat.

Hal ini terkait dengan fakta bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok secara aktif mengurangi ketergantungan pada dolar AS dengan melepas sebagian kepemilikan obligasi pemerintah AS dan menggantinya dengan emas sebagai cadangan. Langkah ini dikenal sebagai bagian dari strategi dedolarisasi.

Ketika bank sentral sebesar Tiongkok melakukan pembelian emas secara agresif, pasar global langsung merespons karena volumenya sangat besar. Beberapa negara lain juga mulai melakukan langkah serupa, sehingga permintaan emas semakin kuat dan ikut mendorong harga naik.

Baca Juga  Asuransi Syariah, Bukan Hanya Untuk Warga Muslim

Jika semua faktor ini digabungkan, kenaikan harga emas bukanlah hasil dari satu penyebab tunggal. Ada campuran antara kondisi global yang gak stabil, kebijakan moneter, peran emas sebagai aset aman, juga adanya permintaan besar dari negara. Selama faktor-faktor tersebut masih relevan, harga emas cenderung tetap sensitif dan mudah bergerak naik.

Emas Fisik vs Saham Emiten Emas: Apa Bedanya bagi Investor?

Nah, buat yang kepincut investasi karena tergoda harga emas yang lagi tinggi, yaa enggak apa juga. Pastikan saja ada duitnya.

Tapi, kamu perlu tahu bahwa pilihannya bukan cuma menyimpan emas fisik. Ada juga opsi berinvestasi lewat saham emiten emas. Tapi ya penting untuk paham dulu perbedaan karakter dan risikonya.

1. Emas Fisik Cenderung Stabil dan Defensif, tapi Pergerakannya Terbatas

Emas fisik sering dipilih karena karakternya yang relatif stabil dalam jangka panjang. Instrumen ini banyak digunakan sebagai penyimpan nilai, terutama saat kondisi ekonomi atau pasar keuangan sedang tidak pasti.

Namun, emas fisik bersifat pasif karena tidak menghasilkan arus kas seperti dividen atau bunga. Keuntungan baru terasa jika harga emas naik, sehingga pergerakannya cenderung lebih lambat. 

2. Saham Emiten Emas Menawarkan Potensi Return Lebih Besar, tapi Fluktuasinya Tinggi

Berbeda dengan emas fisik, saham emiten emas adalah instrumen berbasis kinerja perusahaan. Ketika harga emas naik dan operasional perusahaan berjalan efisien, potensi keuntungannya bisa berlipat dibandingkan kenaikan harga emas itu sendiri.

Namun, di sisi lain, pergerakannya jauh lebih volatil karena ikut dipengaruhi sentimen pasar saham. Harga bisa naik cepat, tapi juga bisa turun tajam dalam waktu singkat.

3. Harga Emas Bukan Satu-satunya Faktor Penentu Saham Emiten Emas

Mungkin kamu bertanya-tanya, kalau harga emas naik, apakah saham emiten emas juga akan otomatis naik? Yaah, enggak juga. 

Biaya produksi, efisiensi operasional, kualitas manajemen, hingga umur cadangan tambang sangat berpengaruh pada kinerja perusahaan. Jika biaya produksi tinggi atau manajemen kurang solid, kenaikan harga emas belum tentu langsung menguntungkan perusahaan. 

4. Risiko dan Peluang Masing-Masing Instrumen Berbeda Karakter

Emas fisik memiliki risiko yang relatif lebih rendah, terutama untuk tujuan jangka panjang dan lindung nilai. Risiko utamanya lebih ke penyimpanan, likuiditas, dan selisih harga beli-jual.

Sementara itu, saham emiten emas menawarkan peluang keuntungan yang lebih besar, tetapi risikonya juga lebih tinggi. Investor harus siap menghadapi fluktuasi harga saham, risiko bisnis, dan kondisi pasar modal secara keseluruhan. 

Baca Juga  Ini Dia 4 Jenis Investasi yang Tak Tergerus Inflasi dan Bagaimana Pengelolaan Terbaiknya

5. Data Keuangan dan Kinerja Emiten Jadi Kunci untuk Saham Emas

Jika memilih saham emiten emas, data keuangan wajib jadi bahan pertimbangan utama. Laporan laba rugi, arus kas, struktur utang, serta rencana ekspansi perlu dilihat secara menyeluruh. Kinerja historis perusahaan juga bisa memberi gambaran bagaimana manajemen menghadapi perubahan harga emas.

Mengenal Jenis Emiten yang Diuntungkan dari Kenaikan Harga Emas

Kenaikan harga emas sering membuat banyak investor melirik saham-saham yang punya keterkaitan langsung dengan komoditas ini. Namun, enggak semua emiten emas diuntungkan dengan cara yang sama, sehingga penting mengenali karakter bisnis masing-masing sebelum mengambil keputusan.

1. ANTM (Aneka Tambang Tbk)

ANTM termasuk emiten yang paling sering dikaitkan dengan pergerakan harga emas karena bisnis emasnya cukup lengkap, dari hulu sampai hilir. Perusahaan ini enggak hanya menambang emas, tetapi juga menjual emas batangan langsung ke masyarakat. Saat harga emas naik, potensi pendapatan dari penjualan emas batangan biasanya ikut terdorong.

Namun, kinerja ANTM gak sepenuhnya bergantung pada emas karena portofolionya juga mencakup nikel dan komoditas lain. Artinya, pergerakan sahamnya bisa dipengaruhi faktor di luar emas. 

2. BRMS (Bumi Resources Minerals Tbk)

BRMS lebih fokus pada bisnis pertambangan emas dibandingkan emiten BUMN seperti ANTM. Perusahaan ini mengembangkan dan mengoperasikan tambang emas, sehingga kinerjanya lebih sensitif terhadap naik turunnya harga emas dunia.

Ketika harga emas naik, potensi peningkatan pendapatan BRMS bisa terasa lebih langsung. Tapi di sisi lain, risiko operasionalnya juga lebih besar karena bergantung pada produksi tambang. Faktor seperti biaya produksi, progres proyek, dan efisiensi operasional sangat menentukan. 

3. PSAB (J Resources Asia Pasifik Tbk)

PSAB menjalankan bisnis pertambangan emas di beberapa wilayah Indonesia dengan fokus utama pada produksi. Emiten ini sering dilihat sebagai “pure play” emas karena sumber pendapatannya sangat bergantung pada hasil tambang emas.

Ketika harga emas sedang naik, prospek pendapatan PSAB ikut membaik, asalkan produksi berjalan lancar. Nah, tapi ya ada tantangannya, yakni ada di sisi keberlanjutan cadangan tambang dan stabilitas operasional. 

4. MDKA (Merdeka Copper Gold Tbk)

MDKA enggak hanya bergerak di emas, tetapi juga memiliki eksposur besar ke tembaga dan komoditas lain. Meski begitu, emas tetap menjadi salah satu kontributor penting dalam portofolio bisnisnya. 

Kenaikan harga emas bisa memberi dorongan tambahan pada kinerja keuangan MDKA, meskipun dampaknya gak sekuat emiten emas lainnya. Keunggulan MDKA ada pada skala bisnis dan proyek-proyek jangka panjangnya. Tapi bisnis MDKA ini cukup kompleks, jadi pergerakan sahamnya bisa dipengaruhi banyak faktor sekaligus. 

Baca Juga  5 Jenis Investasi Syariah yang Perlu Investor Pemula Ketahui dan Pertimbangkan
saham emas

Sumber: Database Value

Apa yang Perlu Dicek Sebelum Membeli Saham Emiten Emas?

Saham emiten emas memang sering terlihat menarik saat harga emas sedang naik, tapi itu bukan alasan yang cukup untuk langsung membeli. Sebelum melihat grafik harga, ada beberapa hal mendasar yang perlu dicek lebih dulu agar keputusan investasi gak hanya berdasarkan momentum.

Mulai dari laporan keuangan, karena laporan keuangan adalah pintu masuk paling dasar sebelum membeli saham emiten tambang emas. Perhatikan pendapatan untuk tahu seberapa besar skala bisnisnya, lalu cek laba untuk melihat apakah operasionalnya benar-benar menghasilkan keuntungan. 

Kemudian AISC atau All-in Sustaining Cost menunjukkan biaya yang dibutuhkan perusahaan untuk memproduksi emas. Angka ini penting karena berpengaruh langsung pada margin keuntungan. Emiten dengan AISC rendah cenderung lebih tahan banting saat harga emas turun, dan lebih cepat menikmati keuntungan saat harga emas naik. Demikian juga sebaliknya.

Cadangan emas menentukan seberapa lama perusahaan bisa terus beroperasi. Emiten dengan cadangan besar dan umur tambang panjang akan punya prospek jangka panjang yang lebih jelas. Tanpa cadangan yang cukup, perusahaan harus terus mencari sumber baru, yang artinya butuh biaya dan waktu tambahan. 

Bisnis tambang emas sangat erat kaitannya dengan izin dan kebijakan pemerintah. Perubahan aturan, isu lingkungan, atau keterlambatan perpanjangan izin bisa berdampak langsung ke operasional. Risiko seperti ini sering tidak langsung terlihat di laporan keuangan, tapi efeknya bisa besar ke harga saham. 

Emas Naik, Peluang Ada, Tapi Tetap Perlu Disikapi dengan Data

Melihat satu indikator saja enggak cukup untuk mengambil keputusan saat mulai investasi. Laporan keuangan, biaya produksi, cadangan tambang, hingga risiko regulasi perlu dibaca sebagai satu kesatuan. Pendekatan seperti ini membantu investor memahami kondisi emiten secara menyeluruh.

Di sinilah peran data saham yang rapi dan tepercaya seperti yang disediakan oleh Value jadi penting, karena memudahkan investor membaca kinerja tanpa harus menebak-nebak. Dengan dasar data yang jelas, keputusan investasi bisa lebih rasional dan terukur.

Value membantu investor membaca kinerja emiten secara menyeluruh, bukan sepotong-sepotong. Dengan data yang rapi dan terstruktur, keputusan beli saham emiten emas bisa dibuat berdasarkan pemahaman, bukan sekadar ikut tren harga emas.

Jadi gimana? Mau beli emas fisik apa mau beli perusahaannya?

Ditempatkan di bawah: Ekonomi, Saham Ditag dengan:emas, investasi saham, saham

Related Posts

  • Demand Energi Berubah, Emiten Batubara Adaptif Atau Ketinggalan?
  • Pembagian Dividen: Apa yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Investasi
  • 3 Tip Investasi Terbaik di Tengah Masa Krisis Pandemi
  • 5 Beda Saham dan Reksa Dana Saham
  • 5 Jenis Investasi Syariah yang Perlu Investor Pemula Ketahui dan Pertimbangkan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Instagram
  • LinkedIn
  • Twitter
  • YouTube

Podcast Diskartes

Buku Investasi (Katanya…)

buku saham terbaik

Copyright © 2026 diskartes