• BLOG
  • Buku
  • Podcast
  • Video
  • Testimonials
  • Data

Diskartes - Blog Investasi dan Ekonomi

Blog Perencanaan Keuangan, Investasi Saham, Cryptocurrency, dan Ekonomi.

  • Ekonomi
  • Saham
  • Blockchain
  • Perencanaan Keuangan
  • Fintech
  • Bisnis
Anda di sini: Beranda / Saham / Unlocking Hidden Value: Bagaimana Spin-Off Fiber Bisa Mengubah Profil Risiko Emiten Telekomunikasi

Unlocking Hidden Value: Bagaimana Spin-Off Fiber Bisa Mengubah Profil Risiko Emiten Telekomunikasi

Januari 14, 2026 By diskartes Tinggalkan Komentar

Emiten telekomunikasi belakangan ini sedang ramai membahas fiber optik. Tak hanya sebatas tulang punggung layanan, tapi sebagai aset yang bisa diolah lebih strategis.

Di tengah persaingan yang makin ketat, jaringan fiber memang seharusnya enggak hanya dipakai untuk menopang operasional harian, tapi juga mulai dilihat sebagai sumber nilai yang bisa dioptimalkan. Pendekatan ini membuat cara pandang terhadap bisnis telekomunikasi ikut bergeser, dari yang sebelumnya berat di belanja modal, menjadi lebih fokus pada efisiensi dan pembacaan nilai aset jangka panjang.

Sejalan dengan itu, muncul berbagai strategi untuk mengelola aset fiber agar dampaknya terasa ke kinerja keuangan dan pergerakan saham. Beberapa emiten memilih merapikan struktur bisnis, memisahkan aset, atau membuka peluang kerja sama agar nilai jaringan lebih terlihat dan terukur. Langkah-langkah ini membuka prospek baru, tapi sekaligus membawa konsekuensi yang sama sekali enggak sederhana. 

Apa Itu “Hidden Value” dalam Aset Fiber Optik?

Fiber optik pada dasarnya adalah aset jangka panjang. Biaya membangunnya besar, prosesnya enggak sebentar, sementara hasilnya gak langsung kelihatan. Tapi begitu terpasang, jaringan ini bisa dipakai bertahun-tahun.

Selain mahal, fiber juga bukan aset yang mudah digantikan. Kalau sudah tertanam di suatu wilayah, nilai strategisnya tinggi karena enggak semua pemain bisa membangun ulang jaringan yang sama dengan cepat. Dari sisi bisnis, ini sebenarnya mengindikasikan aset yang sangat kuat.

Masalahnya, selama aset fiber masih “jadi satu” di dalam tubuh operator, value-nya jadi enggak kelihatan jelas di laporan keuangan. Fiber tercampur dengan bisnis layanan, pelanggan, dan operasional harian. Akibatnya, pasar sulit menilai berapa sebenarnya value jaringan itu sendiri. 

Karena “enggak kelihatan”, investor lebih sering melihat total capex dan beban penyusutan, tanpa bisa memisahkan mana nilai aset dan mana biaya operasional. Di titik ini, potensi nilai fiber jadi seperti tersembunyi di balik angka-angka besar.

Nah, ketika aset fiber dipisahkan lewat spin-off atau pemisahan bisnis, aset tersebut mulai “berdiri sendiri”. Value-nya jadi lebih terukur karena punya struktur, laporan, dan tujuan bisnis yang lebih spesifik.

Valuasinya juga menjadi lebih transparan karena investor bisa menilai aset jaringan tanpa harus mencampurnya dengan kinerja layanan operator. Bahkan, aset ini bisa dimonetisasi lewat kerja sama, penjualan sebagian kepemilikan, atau skema lain, tanpa harus menjual atau mengorbankan bisnis inti operator itu sendiri.

Dengan kata lain, spin-off atau pemisahan aset fiber pada emiten telekomunikasi enggak bisa dibaca sebagai aksi korporasi biasa, karena ya memang bukan sekadar urusan restrukturisasi di atas kertas. Spin-off bukan berarti perusahaan melepas aset berharganya begitu saja. Justru sebaliknya, langkah ini sering dipakai untuk membuat nilai aset fiber yang sebelumnya “tidak kelihatan” menjadi lebih jelas dan bisa dimanfaatkan secara optimal.

Bagi investor, ini penting karena value yang tadinya tersembunyi mulai punya peluang untuk tercermin ke valuasi saham secara lebih nyata.

Cerita Emiten: Pendekatan yang Berbeda, Tujuan yang Sama

Nah, mari coba lihat cerita masing-masing emiten telekomunikasi. TLKM, ISAT, dan EXCL dikabarkan sama-sama menghadapi isu yang mirip soal aset fiber optik.

Meski demikian, tiap emiten memilih jalan yang enggak persis sama. Perbedaan strategi ini penting, karena dari sanalah risiko dan peluang investasi terbentuk. Di bagian ini, kita lihat bagaimana masing-masing emiten membaca aset fiber dan dampaknya ke arah bisnis mereka.

Yuk, kita coba lihat kondisi masing-masing berikut ini.

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)

TLKM memilih pendekatan berbasis ekosistem dalam memisahkan aset fiber, bukan langkah yang serba cepat atau ekstrem. Salah satu strategi yang ditempuh adalah spin-off InfraCo, disertai rencana penjualan saham minoritas di kisaran 20%–30% dengan valuasi sekitar 9–12 kali EV/EBITDA.

Baca Juga  Memilih Pialang Saham Yang Seksi Itu Penting!

Skema ini memberi gambaran bahwa TLKM ingin membuka nilai aset jaringan tanpa kehilangan kendali penuh. Artinya, aset fiber tetap dimanfaatkan secara optimal, tapi risiko dan beban investasinya bisa dibagi dengan pihak lain. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa TLKM enggak sekadar mengejar transaksi, melainkan menata struktur bisnisnya secara bertahap.

Langkah yang relatif hati-hati ini masuk akal jika melihat posisi TLKM saat ini. Perusahaan masih memiliki mesin pendapatan yang sangat kuat, yaitu Telkomsel. Sampai sekarang, Telkomsel tetap menjadi penyumbang revenue terbesar bagi grup TLKM, terutama dari layanan data dan basis pelanggan berskala besar. Kalau mau lebih jelas ceritanya, bisa cek postingan di Instagram Andhika Diskartes ini aja ya.

Nah, selama sumber pendapatan utama ini tetap solid, TLKM punya ruang untuk melakukan restrukturisasi tanpa tekanan untuk bergerak terburu-buru.

Pemisahan aset fiber di TLKM nantinya akan lebih ke arah membuka value, bukan melepas kendali. Dengan begitu, stabilitas keuangan dan operasional perusahaan akan tetap terjaga.

Dari sudut pandang investor, ini berarti risikonya jadi relatif lebih terukur, meskipun potensi lonjakan valuasi mungkin enggak secepat emiten telekomunikasi yang mengambil langkah lebih agresif. 

sumber: Database Value

PT Indosat Tbk (ISAT)

Berbeda dengan TLKM, ISAT sejak awal menunjukkan pendekatan yang jauh lebih agresif dalam membuka nilai aset fiber. Perusahaan ini menargetkan pembukaan nilai lewat rencana penjualan sekitar 70% saham pada jaringan fiber sepanjang kurang lebih 92.000 kilometer, dengan estimasi nilai transaksi sekitar US$1 miliar atau setara 12,7 kali EV/EBITDA.

Angka ini memberi sinyal kuat bahwa ISAT memang ingin menjadikan aset fiber sebagai sumber nilai yang bisa direalisasikan dalam waktu relatif cepat. Strategi ini bisa merapikan struktur, sekaligus dapat menarik minat pasar lewat skala transaksi dan valuasi yang cukup berani.

Pendekatan agresif ini menunjukkan fokus manajemen ISAT pada percepatan monetisasi aset, meskipun dengan konsekuensi risiko yang lebih besar. Dengan melibatkan mitra strategis dan melepas porsi kepemilikan yang signifikan, ISAT berusaha memperbaiki struktur keuangan sekaligus menciptakan cerita pertumbuhan baru.

Dari sudut pandang investor, langkah seperti ini membuka peluang upside valuasi dalam jangka menengah, terutama jika transaksi berjalan sesuai rencana dan pasar merespons positif. Namun, di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap eksekusi juga menjadi sangat tinggi. Setiap keterlambatan atau perubahan skema bisa langsung tercermin pada pergerakan harga saham. 

PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)

Sementara itu, berbeda dengan dua emiten telekomunikasi sebelumnya, EXCL bergerak menuju pelepasan penuh dari infrastruktur fiber, menyusul langkah pemisahan model ServiceCo–InfraCo yang dilakukan di PT Link Net Tbk (LINK) serta divestasi terbaru di PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).

Arah ini memberi sinyal bahwa EXCL ingin benar-benar keluar dari pengelolaan infrastruktur jaringan dan memusatkan perhatian pada bisnis layanan. Fokus utamanya adalah efisiensi, baik dari sisi biaya maupun pengelolaan operasional. Dengan tidak lagi menanggung urusan jaringan yang padat modal, perusahaan berharap struktur biaya menjadi lebih ramping dan lebih mudah dikendalikan.

Secara teori, pendekatan ini membuat operasional EXCL lebih fleksibel. Perusahaan bisa lebih fokus mengembangkan layanan, mengelola pelanggan, dan bersaing lewat produk, bukan lewat kepemilikan aset fisik.

Nah, tapi, ada konsekuensinya. Ketergantungan pada pihak lain untuk infrastruktur berarti EXCL harus memastikan kerja sama berjalan stabil dan berkelanjutan. Selain itu, pelepasan aset juga berarti potensi pendapatan dari infrastruktur enggak lagi berada di dalam perusahaan.

So, investor perlu menilai apakah penghematan biaya dan fokus layanan cukup untuk menutup hilangnya kontrol atas jaringan. 

Untuk memudahkan penggambaran, berikut disajikan tabel perbandingan strategi TLKM, ISAT, dan EXCL.

Baca Juga  Investasi yang Menguntungkan di Tahun 2023, Resesi atau Tidak
 TLKMISATEXCL
Pendekatan ke aset fiberBertahap, berbasis ekosistemAgresif, berbasis transaksiPelepasan penuh infrastruktur
Bentuk strategiSpin-off InfraCo + jual 20–30% saham minoritasRencana jual ±70% jaringan fiberKeluar dari kepemilikan jaringan
Valuasi / skema transaksi±9–12x EV/EBITDA±12,7x EV/EBITDATidak fokus pada valuasi aset fiber

Kenapa Pemisahan Fiber Bisa Mengubah Profil Risiko Emiten

Pemisahan aset fiber optik ini bukan cuma soal struktur bisnis yang berubah saja. Dampaknya lebih luas, terutama ke cara investor melihat risiko emiten.

Risiko di sini bukan hanya soal naik-turunnya harga saham, tapi juga soal seberapa stabil keuangan perusahaan, seberapa fokus operasionalnya, dan bagaimana pasar memberi nilai pada saham tersebut. Setidaknya ada tiga jenis risiko utama yang ikut berubah ketika aset fiber dipisahkan dari bisnis operator, dan ini perlu diperhatikan banget oleh investor.

Risiko Keuangan

Dari sisi keuangan, dampak paling terasa dari pemisahan fiber adalah berkurangnya beban belanja modal atau capex di bisnis utama. Selama aset fiber masih menyatu di operator, perusahaan harus terus mengalokasikan dana besar untuk pembangunan dan perawatan jaringan. Hal inilah yang sering bikin arus kas tertekan, apalagi ketika ekspansi jaringan sedang agresif.

Setelah aset fiber optik dipisahkan, kebutuhan capex di level operator bisa lebih terkendali karena pengelolaan jaringan dilakukan oleh entitas khusus. Akibatnya, arus kas perusahaan akan jadi lebih stabil. Perusahaan enggak lagi harus “kejar-kejaran” antara belanja jaringan dan kebutuhan operasional lainnya.

Kondisi ini memberi ruang bernapas yang lebih lega bagi manajemen dalam mengatur keuangan. Dalam beberapa kasus, stabilnya arus kas juga membuka peluang untuk pembagian dividen yang lebih konsisten.

Selain dividen, dampak lainnya bisa terlihat di neraca perusahaan. Dana hasil monetisasi aset fiber bisa dipakai untuk memperkuat posisi kas atau menurunkan utang. Neraca yang lebih sehat otomatis menurunkan risiko keuangan secara keseluruhan.

Buat investor, hal ini penting karena perusahaan dengan struktur keuangan yang lebih rapi biasanya dianggap lebih tahan terhadap tekanan ekonomi atau perubahan kondisi pasar.

Risiko Operasional

Dari sisi operasional, pemisahan fiber membantu memperjelas fokus bisnis. Operator telekomunikasi pada dasarnya adalah perusahaan layanan. Mereka bersaing soal kualitas jaringan, pengalaman pelanggan, harga paket, dan inovasi produk. Ketika urusan infrastruktur jaringan ditangani sendiri, perhatian manajemen sering terpecah antara membangun aset dan mengembangkan layanan.

Dengan adanya entitas khusus seperti InfraCo di TLKM atau FiberCo di ISAT, pengelolaan infrastruktur menjadi lebih terfokus. Tim yang mengurus jaringan bekerja dengan target dan ukuran kinerja yang berbeda dari operator layanan. Sementara itu, operator bisa lebih berkonsentrasi pada pelanggan, penjualan, dan pengembangan produk. Pembagian peran ini membuat proses bisnis lebih rapi dan terukur.

Dari sudut pandang risiko, fokus yang lebih jelas ini mengurangi potensi gangguan operasional. Masalah di pembangunan atau perawatan jaringan enggak langsung mengganggu strategi layanan. Sebaliknya, pengembangan layanan baru juga tidak harus selalu terbentur oleh keterbatasan proyek infrastruktur.

Untuk investor, struktur operasional seperti ini biasanya dipandang lebih sehat karena risiko operasionalnya tidak menumpuk di satu titik saja.

Risiko Valuasi Saham

Perubahan paling menarik sering terjadi di risiko valuasi saham. Ketika aset fiber masih menyatu dengan bisnis operator, pasar cenderung menilai perusahaan sebagai satu paket besar. Aset, layanan, dan operasional bercampur jadi satu angka valuasi. Akibatnya, nilai jaringan fiber yang sebenarnya sangat besar enggak selalu tercermin secara jelas di harga saham.

Setelah pemisahan, pasar mulai melihat aset dan bisnis sebagai dua hal yang berbeda. Aset fiber bisa dinilai dengan pendekatan sendiri, sementara bisnis layanan dinilai berdasarkan kinerja operasional dan pertumbuhan pelanggan. Di sinilah potensi rerating muncul, yaitu ketika pasar memberi penilaian ulang yang lebih tinggi karena struktur bisnis dianggap lebih jelas dan transparan.

Baca Juga  Mengatasi Inflasi dengan 5 Cara Taktis

Namun, penting juga dipahami bahwa rerating ini enggak otomatis terjadi pada semua emiten. Pasar tetap selektif. Strategi pemisahan, kualitas aset, penggunaan dana hasil monetisasi, hingga kinerja bisnis inti tetap jadi pertimbangan utama. Artinya, pemisahan fiber bisa membuka peluang kenaikan valuasi, tapi bukan jaminan. Investor tetap perlu melihat detailnya, bukan hanya judul besar tentang restrukturisasi.

Dampaknya ke Investor: Awas Euforia!

Setiap kali ada berita soal spin-off atau restrukturisasi, reaksi pasar sering kali cepat. Judulnya terdengar besar, kesannya strategis, dan langsung dikaitkan dengan potensi kenaikan harga saham.

Tak heran di titik ini, banyak investor tergoda untuk ikut masuk hanya karena takut ketinggalan momentum. Padahal, euforia berita sering kali enggak menggambarkan keseluruhan fakta. Yang diberitakan biasanya adalah rencana besar atau baru wacana, bukan detail bagaimana transaksi itu dijalankan.

Struktur transaksi justru sering tersembunyi di bagian yang jarang dibaca. Apakah aset benar-benar dipisahkan? Apakah masih dikonsolidasikan di laporan keuangan? Siapa yang pegang kendali? 

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jarang muncul di headline, tapi dampaknya besar ke risiko saham. Investor yang hanya ikut arus berita berisiko salah membaca arah bisnis perusahaan. Harga saham bisa naik sesaat, lalu stagnan atau bahkan turun ketika pasar mulai mencerna detailnya.

Karena itu, sikap paling aman adalah menahan diri sejenak dan membaca strukturnya. Spin-off bukan jaminan value langsung naik. Ada emiten yang diuntungkan, ada juga yang efeknya netral, bahkan ada yang justru menambah risiko.

Di sinilah kebutuhan data menjadi sangat penting. Investor enggak cukup hanya melihat laporan terbaru, tapi juga perlu membandingkan dengan data historis. Bagaimana kinerja emiten sebelum dan sesudah restrukturisasi? Apakah valuasinya memang lebih masuk akal setelah aset dipisahkan? 

Selain itu, perbandingan lintas emiten juga membantu memberi konteks. Strategi satu emiten belum tentu cocok dibandingkan emiten lain, meskipun berada di sektor yang sama.

Pendekatan berbasis data membantu investor mengambil jarak dari opini dan spekulasi. Dengan data valuasi historis dan pembanding sektor, investor bisa melihat apakah perubahan struktur benar-benar menciptakan nilai atau hanya sekadar perubahan bentuk.

Di titik inilah peran Value menjadi relevan. Sebagai perusahaan data saham tepercaya, Value membantu investor membaca dampak aksi korporasi secara lebih objektif. Bukan untuk memberi janji untung, tapi untuk menyediakan dasar analisis yang lebih masuk akal.

Dengan data yang tepat, keputusan investasi tidak lagi didorong oleh euforia, melainkan oleh pemahaman yang lebih utuh tentang risiko dan peluang.

Spin-Off Fiber Optik: Siapa Paling Siap?

Spin-off fiber optik memang membuka peluang yang sebelumnya sulit terlihat. Ketika aset fiber dipisahkan, nilainya enggak akan tenggelam lagi di balik laporan keuangan operator yang kompleks. Investor jadi bisa melihat dengan lebih jelas berapa besar nilai jaringan yang dimiliki perusahaan. 

Dalam kondisi tertentu, pemisahan ini juga memberi ruang bagi perusahaan untuk mendapatkan dana segar tanpa harus menjual bisnis intinya. Dana tersebut bisa dipakai untuk memperbaiki neraca, menurunkan utang, atau memperkuat layanan.

Melihat ke 2026, sikap investor enggak bisa lagi sekadar reaktif terhadap berita besar. Spin-off fiber optik akan makin sering dibicarakan, tapi enggak semuanya layak ditanggapi dengan cara yang sama. 

Investor wajib selektif dalam memilih emiten. Dan, selektif artinya mau meluangkan waktu untuk membaca detail. Struktur transaksi, dampak ke arus kas, dan posisi perusahaan setelah spin-off perlu dipahami secara utuh.

So, mau jadi investor yang siap menghadapi 2026? Kalau iya, maka hindarilah tergoda euforia, tapi juga enggak menutup mata terhadap peluang.

Dengan pendekatan yang lebih mindful dan berbasis data, spin-off fiber optik bisa menjadi bagian dari strategi investasi yang masuk akal. Tanpa itu, risikonya justru lebih besar daripada manfaatnya.

Ditempatkan di bawah: Saham Ditag dengan:emiten telekomunikasi, investasi, saham

Related Posts

  • Demand Energi Berubah, Emiten Batubara Adaptif Atau Ketinggalan?
  • 3 Tip Investasi Terbaik di Tengah Masa Krisis Pandemi
  • Brilian! Database Value Kunci Profit Investor Rasional
  • Ini Dia 5 Kriteria Investor Cerdas: Apakah Kamu Sudah Termasuk?
  • Bullish: Pengertian, Penyebab, dan Bagaimana Menyikapinya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Instagram
  • LinkedIn
  • Twitter
  • YouTube

Podcast Diskartes

Buku Investasi (Katanya…)

buku saham terbaik

Copyright © 2026 diskartes